Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts
Showing posts with label 4.5 stars. Show all posts

Wednesday, August 27, 2008

Eddie Vedder - OST Into The Wild (2007)




Paman Eddie telah kembali!!

Soundtrack
ini merupakan hasil nepotisme bersama sang sobat karib, Sean Penn, menunjukkan bahwa legenda hidup Seattle Sound ini tidak butuh komposisi rumit dan distorsi. Cukup vokal, gumaman dan lengkingan khas yang membuat Paman Eddie tersohor di tahun 90-an hingga sekarang. Ditambah gitar akustik, slide guitar, banjo, dan komposisi yang sederhana namun bermakna.
Hasilnya luarbiasa...

Eddie Vedder back to basic,
Beautiful magic.

Into The Wild bukan soundtrack biasa yang asal mencomot lagu dari sana sini yang temanya dimirip-miripkan. Itu bukan soundtrack tulen namanya, itu kompilasi! Kompilasi bisa dibuat siapa saja, entah itu penulis blog musik yang sok tahu, pemain band amatiran, atau anak baru gede.
Soundtrack Into The Wild yang dibuat Paman Eddie adalah contoh bahwa tidak semua orang bisa membuat musik untuk mengiringi sebuah film dengan baik dan benar. Ini adalah soundtrack sekaligus concept album yang sempurna yang membuktikan kalau nama besar Eddie Vedder bukan pepesan kosong.


Saking menyatunya dengan film, saya berani menyatakan kalau soundtrack ini adalah setengah filmnya. Kehilangan musiknya sama seperti menonton film yang kena gunting sensor hingga setengah durasi total.


Soundtrack dibagi kepada fase-fase perjalanan Chris menuju Alaska, walaupun di filmnya track demi track tidak dimunculkan secara berurutan.

Kita akan tersenyum kecil ketika mendengar "Society". Betapa seorang Christopher McCandless membuat orang-orang di sekitarnya merasa kehilangan sosok yang begitu berbeda, yang menempuh perjalanannya dengan penuh dendam masa lalu dan amarah.

Sebuah unek-unek tentang keserakahan manusia dan konsumerisme. Sebuah curhatan sang pengembara pemberani yang menjelajah hingga ke ujung utara benua Amerika:


You think you have to want more
than you need
Till you have it all
you won't be free
Society, you're crazy breed

Hope you're not lonely without me


Ketika Chris menemukan jawaban atas kegelisahan dan pertanyaannya selama mengembara, lalu menjemput ajal dengan damai, ketika itulah "Big Hard Sun" dinyanyikan seperti soundtrack kematian yang membahana.
Menyiratkan sebuah makna mendalam bahwa orang-orang hebat harus melalui cobaan demi cobaan besar, yang membentuk hidup mereka.

There's a big
a big hard sun
Beaten on the big people
In the big hard world


Sunday, March 16, 2008

Protest The Hero - Fortress (2008)



Saya tidak suka musik metal, hanya bikin sakit kepala dan menambah timbunan parasetamol di kotak obat. Isinya hanya geraman dan teriakan gak jelas dari seseorang yang menyembunyikan kekurangan teknik vokalnya, gitaris yang hanya memikirkan bagaimana membuat jari-jari menari dengan cepat diantar senar gitar dan melupakan komposisi. Basi!
Dobel pedal? Gak perlu!

Mubazir itu semua!


Tetapi ada sebuah balatentara setan dari neraka bernama Protest The Hero menghajar ketidaksukaan saya sampai ke sumsum tulang belakang dengan album Fortress, mereka tahu kelemahan saya! Syiiiittt...!!!
Dengan sempurna meramu keagresifan Refused; pattern metal klasik dengan dominasi dua gitar; lirik bertema fantasi; perubahan tempo dan beat yang cepat, ganas dan mengagumkan ala progressive rock; tidak ketinggalan mempersembahkan salah seorang vokalis dengan kualitas terbaik dan paling berbahaya di muka bumi yang bergerak dari lembut ke keras, dari lengkingan tertinggi seperti yang bisa dicapai vokalis Steelheart hingga ke growl paling jahat seperti suara anjing penghuni dasar neraka. Salah satu utusan setan ini bernyanyi sambil menjerit, menggeram dan entah apa lagi.. sadiss...sadisss. Musik sesat! Ampuni hambamu ini Tuhaaann!!!

Fortress adalah album yang tepat untuk melempar band-band metal palsu tak bertalenta dengan hanya bermodal growl dan tapping ke Laut Selatan, balapan di jalan raya sambil menantang lawan Anda dengan jari tengah, menjadi lelaki sejati, atau adu badan dan headbanging di mosh pit. Jikalau Anda adalah iblis dan setan, maka ini adalah soundtrack yang tepat untuk menghajar malaikat dan menjerumuskan umat manusia ke lubang neraka!


Saturday, February 9, 2008

Clint Mansell with The Kronos Quartet and Mogwai - OST The Fountain (2006)



Clint Mansell menambah deretan komponis favorit saya khusus untuk music score sebuah film. Thomas Newman masih tetap nomor satu dengan karya-karyanya di Shawshank Redemption, Road to Perdition, A Series of Unfortunate Events dan American Beauty.

Dari titelnya saja saya sudah bisa menerka kekuatan apa yang harus mereka punya jika ingin bertahan hidup dan mencari makan di jagat perfilman Hollywood: Kekuatan sebuah komposisi.
Orang-orang seperti Mansell harus melupakan bahkan kalau perlu tidak memakai sound effect yang terlalu hebat. Semua itu kosmetik belaka, hanya untuk pemula.

Mansell menggabungkan The Kronos Quartet dengan salah satu band pionir post-rock, Mogwai, untuk pengerjaan soundtrack film The Fountain ini. Komposisi yang kuat, orkestra campur sound gitar, piano dan drum dari band yang bertanggungjawab terhadap sound post-rock jaman sekarang ini mengasilkan soundtrack yang mahadahsyat. Canggih!

Teramat panjang apabila saya menjelaskan track demi track. Agar lebih jelas penilaian saya tentang album ini maka saya menggambarkan Clint Mansell telah berhasil melewati apa yang saya sebut 'tahapan tertinggi' sebuah komposisi musik, tahap dimana musik memiliki unsur
mistis: Hadirnya sebuah aura misterius pada sebuah komposisi yang membuat kita seperti menerobos kabut putih yang tebal tanpa tahu ada apa dibaliknya.

Di dalam musik populer, hanya sedikit sekali yang mencapai tahap puncak dikarenakan memang audience-nya tidak terlalu membutuhkan atau si pencipta lagu belum memiliki intuisi yang memadai.
Soundtrack The Fountain ini dengan mudah mencapai tahap mistis yang transendental. Saya bahkan tidak perlu menonton filmnya untuk mendapatkan situasi, atmosfir dan penghayatan yang diinginkan sang pembuat film. Hanya dengan mendengarkan sepuluh komposisi gawat dari Clint Mansell ini sudah cukup.


Friday, January 25, 2008

The Mars Volta: The Bedlam in Goliath (2008)



Agar bertahan dari proses revolusi industri musik yang kejam, untuk menangkal serangan-serangan beracun dan berbahaya dari band-band sampah dan download gratisan, maka Anda harus membuat band seperti The Mars Volta (TMV):
Berkulit tebal seperti buaya prasejarah, tenaga sebesar robot T-Rex, sumber energi reaktor nuklir tanpa batas, komposisi setajam taji velociraptor yang melengkung berbahaya, vokalis dengan kualitas tanpa ampun dan music director kidal tidak waras yang gemar menciptakan riff-riff dan melodi ganjil.

Dijamin musik yang anda ciptakan punya dua kemungkinan:
1. Membuat pendengarnya sakit jiwa.
2. Musik Anda masih dibicarakan 20 tahun kemudian. Sebuah konser reuni setelah lama bubar akan dinantikan sebagai peristiwa bersejarah.

Dua kemungkinan itu punya satu kepastian: Tidak ada satupun yang bisa menghajar band Anda!
Saya teringat perkataan seorang teman penggemar TMV, "Gue bingung sama Omar, kurang puas eksperimen apa dia di TMV sampai harus membuat beberapa solo album?"

The Mars Volta kembali dengan akrobat musikal jenius di The Bedlam in Goliath. Tanpa ampun langsung merusak indera pendengaran dengan gebrakan Aberinkula yang bengis, cepat dan berisik dilanjutkan dengan Metatron. Energi yang dihabiskan untuk 2 track ini hampir sama dengan mendengarkan satu album musik rock "konvensional".
TMV masih berbelas kasihan untuk menurunkan tempo di Ilyena tapi tidak untuk kualitas, Omar berusaha mengurangi intensitas riff-riff ganjil dan melodi absurdnya...untuk kambuh lagi di Wax Simulacra--anthem headbanging wajib The Bedlam in Goliath, rusuh!
Track Goliath membuat saya beranda-andai, mungkin ini kedengarannya kalo RATM dan RHCP diramu orang gendeng.
Doa saya setelah lima track dijawab Omar dengan menyisipkan rest track Tourniquet Man, tapi..........
Telinga dan otak kembali dikutuk track selanjutnya... dan lagi, lagi..lagi.....
Alhamdulillah terdengar suara adzan yang merdu di Soothsayer dengan melodi padang pasir yang mistis dan megah....
Apakah ini pertanda Omar dan kawan-kawan mendapat hidayah dan akan bertobat? Entahlah....

Sejauh ini, The Bedlam in Goliath merupakan pencapaian puncak The Mars Volta yang membuat band rock, metal atau hardcore jaman sekarang terdengar seperti Peterpan. Sungguh!!!


Tuesday, January 8, 2008

The New Caledonia - Lotus (2007)



Segala macam band yang mengaku progressive rock harap minggir!!!! The New Caledonia mau lewat!
band sangar dari Australia ini bisa membuat embah-embah
progressive rock geleng-geleng kepala dengan eksperimen liar dan jenaka di debut album mereka, Lotus.

The New Caledonia mengembalikan harkat dan martabat progressive rock ke fitrahnya: sebuah genre yang merayakan kebebasan musikal dan eksperimen tanpa embel-embel virtuositas yang berlebihan seperti yang terjadi pada saat ini.
Semua hal di atas belumlah cukup, mereka cukup gila untuk menyediakan full album Lotus secara gratis di internet. Sadis!

Album ini adalah bukti kalo eksperimen pol-polan tidak harus membuat kepala berdenyut karena kecapekan mikir (setidaknya buat saya). Elemen free jazz, synth, funk, hard rock, elektro-prog dan tema science fiction-robotic bercampur dengan cerdas dan playful di album yang di itunes saya tidak satupun tracknya pantas mendapat rating dibawah empat!! hebat!!

Simak track-track mahadahsyat pilihan yang mendapat tempat kehormatan sebagai track para "dewa":
Balada elektronika dengan elemen funk dan psikedelia di Electro Legs lengkap dengan duet maut gitar listrik dan saksofon, campur aduk berbagai instrumen di Zoot Suit Pseudo dengan aksen vokal menghanyutkan di detik-detik terakhir, lalu.... puncak orgasme musikal di dua track penutup: celestial satellites dan dilanjutkan atom plants the psychedelia dengan intro space-guitar-ethereal a la post rock, aura timur tengah di menit-menit pertengahan tidak lupa dibantai suara saksofon kiri-kanan. Mampusss!!! Mampussss!!!

Mendengarkan album Lotus, indera pendengaran seperti dihajar babak belur habis-habisan tapi puas,
The New Caledonia sukses membuat salah satu album paling cerdas, paling berjaya dan berbahaya sepanjang masa di tahun 2007. Jenius!

Tuesday, April 24, 2007

Souls Vibrating in the Universe: All These Worlds are Yours (2005)



Souls Vibrating in the Universe mulai bereksperimen dan bereksplorasi lewat instrumen baru dan sound yang lebih segar.
Walaupun penambahan cello sebagai instrumen tambahan turut memperkaya musik mereka, tetapi "efek samping" dari penambahan ini seperti yang terdengar di sebagian besar track di All These Worlds are Yours adalah semakin muramnya suasana di ruangan manapun album ini didengar.

Feel dari lembut ke keras dapat terdengar jelas di Engines on yang di pertengahan lagu memasukkan kocokan gitar bergemuruh plus sonic sound yang kental.
Drums Come in merupakan perpaduan cerdas beat drum, "kebisingan" distorsi gitar, dan sayatan cello yang bisa mengiris hati paling keras sekalipun menjadi serpihan kecil.

Sebagai dua track favorit gue di pertengahan album, Stars Everywhere dan Zircon 5 memberi aksen teatrikal dan berbahaya. Sebuah ajang duet roller-coaster paling mendebarkan dan megah yang pernah disajikan salah satu band tidak dikenal yang paling keren sejagat raya ini.
Universal Will to Become mengajak imajinasi paling dalam gue bekerja secara maksimal dengan ambience yang dominan dan murung, seperti mengalami sendiri perjalanan Catherine Deane (J-Lo) dalam film The Cell: dingin, suram, absurd, kejam dan soliter tiada batas.
Setelah dibombardir oleh gelombang "keputusasaan" di Universal Will to Become, gue diajak bangkit oleh Reap Happiness yang bernuansa optimistik dan menawarkan setitik harapan, sebuah track penutup yang jenius!

All These Worlds are Yours adalah contoh bagus dan sebuah pembuktian kalo feel dalam bermusik jauh lebih penting daripada sekadar mengasah skill atau hanya ingin terlihat berbeda.


Friday, April 6, 2007

Blonde Redhead - 23 (2007)



Jatuh cinta pada pendengaran pertama! Ternyata snap judgement gue gak salah, 23 sebagai track pembuka cukup bikin gue penasaran dan ternyata track-track
berikutnya sama sekali gak mengecewakan dan sulit untuk gak jatuh cinta lagi. Istimewa!

Blonde Redhead yang tetap setia di jalur indie selama lebih dari satu dekade ini melengkapi
band "alumni" Sonic Youth favorit gue setelah Be Your Own Pet.
Di album 23, eksplorasi sound band yang beranggotakan Kazu Makino dan dua kembar Simone dan Amedeo Pace ini memenuhi kebutuhan gue akan musik indie yang fresh, berkualitas, berbobot dan yang penting....sadis.

23 merupakan album eksperimental elektronika ala Goldfrapp lengkap dengan sound synth yang menyerang dari sana-sini, petikan gitar Sonic Youth beserta elemen dark & mellownya Mono (inget one-hit wonder band ini dengan single-nya "Life in Mono" di tahun 96? naah...kayak gitu).
Kalo mendengar beberapa album sebelum ini, maka 23 merupakan penyempurnaan sound dari Misery is a Butterfly yang menandakan era mellow Blonde Redhead setelah bertahun-tahun bermain di genre art rock walaupun tidak "separah" Deerhoof.
Untuk band yang udah tergolong karatan di dunia indie, maka sebuah album yang diproduseri sendiri udah merupakan hal wajar dan hasilnya emang gak main-main, sebuah album of the year versi gue.

Gue mau highlight beberapa track yang cukup mewakili keseluruhan album.
Blonde Redhead mulai meningkatkan level tekstur musik mereka dan harmoni secara dramatis walaupun gak terlalu ekstrim.
Contohnya di track kedua yang juga favorit gue --Dr. Strangeluv, seakan kita lagi diajari bagaimana memanage sound yang berlimpah dengan efektif sehingga jadi musik yang unik, acceptable tanpa perlu jadi aneh. Flow musiknya cukup halus sehingga gue dengan santai bisa nikmatin musik berbobot tanpa harus banyak meres otak kayak dengerin The Mars Volta atau Marnie Stern.
Atmosfir dreamspace-nya agak menghipnotis diselingi hentakan beat bass drum yang kenceng di The Dress dan Silently seperti band-band bergenre dance dan elektronika.

SW melengkapi tradisi olah vokal mereka yang tidak diambil alih seluruhnya oleh Kazu, tapi oleh Amedeo dengan vokal ganjil dan suram tapi keren.
Temen gue sempet ngebandingin mereka dengan Interpol. Kalo denger keseluruhan sih enggak, tapi kalo denger Spring and by Summer Fall lo bakal dengerin persamaannya, serupa tapi tak sama.
Temponya mirip, moodnya yang gloomy & dark mirip, tapi tenang....kita sedang mendengarkan track dari melody and harmony master. Soundnya lebih berwarna, transendental, dan magis...wuih...

Silently diaransemen agar didominasi vokal Kazu untuk membentuk harmoni dengan penempatan melodi yang cantik. Muncul perasaan aneh seperti kegembiraan yang menyakitkan ketika Kazu menyanyikan "The clock is ticking tick tack, tick, tack..." Nadanya sedikit riang tapi atmosfirnya galau, gimana dong?
Track "kuda hitam" di album 23 adalah Top Ranking yang dimulai dengan agak "canggung" tapi punya reff yang bisa bikin berdisko, tentunya disko galau. Joget-joget tapi pasang muka sedih, hahahahah....
Impure Hair adalah track penutup dalam artian sebenernya. Lagu paling slow, paling mellow tanpa ampun. Sebuah lullaby buat para pendengar album mereka yang selalu galau tapi mencoba untuk tetap optimis.

Coba test drive kuping lo semua di: http://www.blonderedhead23.com/


Sunday, March 25, 2007

The Pipettes: We Are The Pipettes (2006)



The Pipettes membuat sebuah formulasi musik kurang lebih sama dengan yang dipopulerkan Ramones tiga dekade lalu: tanpa basa-basi, kurang dari tiga menit, dan efektif. Ucapan "1-2-3 let's go!" di track pembuka mengingatkan gue akan sepenggal trademark dari Ramones. Sebuah kebetulan? Cuman bedanya Dee-Dee Ramone berhitung sampe 4.

Ramuan "punk" tiga cewek indie pop berpenampilan ala Twiggy dengan sack dress bermotif polkadot seperti yang gue lihat dari majalah-majalah fashion nyokap gue.
Musik yang mereka bawain berkiblat kepada pop 60-an --The Golden Oldies: harmonisasi vokal, string arrangement, dan energik. Tapi tentu saja rasa pop 60-an ini jauh berbeda dengan apa yang kita dengar empat dekade lalu. Soundnya jauh lebih modern. Walaupun band ini aslinya tujuh orang beserta band pengiring dengan sisa personil cowok --The Cassettes-- tapi yang lebih ditonjolkan adalah ketiga frontwomennya:
Becki yang berpenampilan nerd-sexylook, Gwenno the bombastic blonde, dan Rose the adorable brunette.

Biasanya gue gak begitu suka kalo ada grup vokal cewek karena kebanyakan cuma fokus di tampang. Tapi The Pipettes adalah pengecualian, mereka sangat komplit dari segi kualitas musik dan penampilan, memuaskan mata dan telinga. Mungkin ini adalah "penebusan dosa" buat Inggris setelah melahirkan era dekaden buat girl band dengan pemunculan Spice Girls.
The Pipettes berbeda karena musiknya cerdas dan cukup komersil tanpa jatuh jadi sebuah musik pop yang predictable dan kacangan.
Mereka bernyanyi dengan logat Inggris kental dan lirik-lirik nakal menyentil seperti di We Are the Pipettes:

We are the Pipettes
And we've got no regrets
If you haven't noticed yet
We're the prettiest girls you've ever met
We are the Pipettes
We will drop you in our nets
When you're crying in your bed
You'll hope we haven't finished with you yet

Secara overall track-track di album ini gak ada yang mengecewakan, bahkan ada beberapa yang menonjol dari lainnya seperti Dirty Mind yang jadi pengenal gue dengan The Pipettes lewat video klip yang gue download dari internet.
Dirty Mind adalah salah satu track The Pipettes yang sedikit lebih "modern". Becki, Gwenno, dan Rose bernyanyi dengan genit tentang cowok keren yang terlihat normal tapi punya fantasi liar.

It Hurts to See You Dance So Well mengingatkan gue akan salah satu band tahun 90-an favorit gue: Swing Out Sisters. Entah dari cara mereka bernyanyi atau dari lagu itu sendiri. Ada juga ABC yang bercerita tentang rasa penasaran terhadap cowok kutu buku:

He knows all about the movements of the planets
But he don't know how to move me
He knows about the sonic spectrum damnit
But he don't know if it's groovy

Gak lupa The Pipettes menyelipkan sebuah rest track bertempo lambat di pertengahan album, A Winters Sky. Cukup menyenangkan, gak monoton.
Track yang kental nuansa 60-an di antaranya adalah Why Did You Stay, Pull Shapes, Judy, Your Kisses Are Wasted on Me, yang paling "parah" yaitu Because It's Not Love (But It's Still A Feeling), dan satu dari dua track paling favorit gue di album ini: I Love You. Track ini punya reffrain yang sangat lovable, lirik yang sederhana tapi manis, dan selera humor yang bagus:

I've seen you try to laugh at all of my bad jokes
And I’ve cooked you seven meals six of them one on which you've choked
But it has taken me a while
To get used to this new feeling
When I woke up with a smile
Oh, I nearly started screaming

Kekaguman gue akan The Pipettes semakin bertambah setelah menyimak track favorit kedua gue di album ini, Sex, memuat harmonisasi vokal The Pipettes paling maksimal dengan durasinya yang begitu singkat (2:39 menit) tapi sangat efektif. Bercerita tentang para pria yang pikirannya selalu penuh seks, seks, dan seks:

He said we could talk about gossip we could talk about lies
He said we could talk about rumours we could do whatever i like
Then he said let's stop all the talking why not try something new
Because there's no need for any talking in what we're about to do....

Sangat catchy, terutama di bagian reff "rest your pretty head, you pretty head" dengan backing vokal riang.....
Bisa-bisa gue joget seperti John Travolta dan Uma Thurman di film Pulp Fiction.

We Are the Pipettes adalah sebuah contoh album girly penuh bobot tanpa terjebak kepada tipikal melankolis seperti Jessica Simpson, Mandy Moore; tipikal bitchy seperti Pink, Britney Spears, Lindsay Lohan dan Christina versi stripped; atau tipikal sok ngepunk seperti Ashlee Simpson dan Avril Lavigne. The Pipettes jauh lebih cerdas dengan melibas semua penyanyi cewek itu rata dengan tanah.

"They are Brits, they are good, they are smart, and they are The Pipettes!"

Sunday, March 18, 2007

Souls Vibrating In The Universe: The Inevitable Sadness EP (2004)



Disebut-sebut sebagai "One of The World's Greatest Unknown Band", Souls Vibrating in the Universe adalah band yang tergolong minim publikasi.
Info yang gue dapat cuma dari beberapa website yang bisa diitung dengan jari, profil myspace mereka yang gak menggembirakan beserta official website yang udah expired (well...lengkap sudah!). Rekaman musik mereka juga termasuk dalam kategori susah ditemukan apalagi The Inevitable Sadness. Walaupun rekaman ini udah cukup lawas, tapi menurut gue band ini punya potensi untuk menjadi besar sehingga review gue masih cukup relevan karena mereka kayaknya gak ngedapat penghargaan dan perhatian yang cukup atas karya mereka.

Souls Vibrating In The Universe membuat sesuatu yang berbeda dari cara penulisan lagu post-rock konvensional walaupun konotasi konvensional adalah sesuatu yang gak dikenal di scene musik ini. Post-rock termasuk genre musik eksperimental yang paling gampang dicerna sehingga mengeksplor sound band-band post-rock adalah sebuah tur sound-surfing yang paling menyenangkan.
Ciri khas elemen post-rock yang berprogresi lambat, juga tekstur musik yang tebal dan sound layer yang bertubi-tubi tetap dipertahankan, akan tetapi flow yang dinamis dari track-track yang diciptain Souls Vibrating In The Universe membuatnya gak terlalu sesurealis Sigur Rós dan gak terlalu cold and dreamy seperti Explosions In The Sky. Souls Vibrating In The Universe lebih cenderung kepada space-psychedelic sound seperti Close Encounters-nya Mogwai.

Di Inevitable Sadness, Souls Vibrating In The Universe membuat ciri khasnya sendiri yang gak lazim di dunia post-rock, yaitu porsi beat drum bergantian dengan gitar mengambil alih komando penciptaan sebuah mood pada musik mereka. Bahkan pada beberapa track, penekanan pada beat drum dilakukan untuk membuka atau menutup beberapa part di satu track.

Track pertama, Mono, dibuka dengan hentakan bass drum yang lembut dan ini adalah sebuah track yang minimalis untuk ukuran post-rock. Tapi justru keindahan musiknya gak diukur dari seberapa ambience atau sound layer yang dihasilkan, tapi lebih kepada musik itu sendiri, lebih kepada atmosfir yang dihadirkan. Untuk hal ini, Souls Vibrating In The Universe gue nilai sangat berhasil dengan segala "keterbatasan" instrumennya.

Ada satu hal yang berbeda selain ciri khas gak lazim Souls Vibrating In The Universe yang gue sebut di atas, yaitu memasukkan growl yang biasa dipakai di musik-musik hardcore dan metal seperti di track pertama dan ketiga. Agak gak lazim untuk sebuah band yang mengedepankan space sound, tapi anehnya nyambung sama mood yang diciptain perlahan-lahan sehingga gue gak kaget.
Pada track kedua, Awaré, teknik growl gak dipake. Penekanan lebih ke olah vokal normal khas post-rock yang depresif-introspektif juga beat drum yang sedikit lebih dominan. Ini merupakan salah satu daya tarik musik Souls Vibrating In The Universe dan mereka juga memberi pelajaran yang baik bagaimana mengaransemen musik secara cerdas dan efektif.

Setelah mendengarkan dengan cukup teliti, gue juga menemukan satu fakta menarik kalo mereka gak banyak nyiptain ambience sound dengan teknologi digital masa kini seperti yang udah lazim dilakukan band-band di genre ini.
Dengan instrumen yang udah memenuhi standar minimal sebuah band --gitar, bas, drum dan vokal--, mereka bisa membuat atmosfir space sound yang pekat dan gak jarang menjadi teatrikal dan megah seperti di No, sebuah track yang memprovokasi imajinasi gue secara maksimal.
Gue ngebayangin robot-robot segede gundam bertarung kolosal ala Braveheart atau Lord of The Rings di luar angkasa, penuh ledakan, pecahan logam yang tersulut api, dan banyak darah....sadis!

Musik Souls Vibrating In The Universe pada The inevitable Sadness ini cocok buat gue yang terlalu males buat ngedengerin Sigur Rós dan terlalu cemen buat dengerin musik metal.
Highly recommended!!