Showing posts with label record review. Show all posts
Showing posts with label record review. Show all posts

Monday, November 3, 2008

Young and Restless - S/T (2007)



Young and restless: Yang muda yang bergelora.

Ada sebuah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepala saya ketika selesai mendengarkan debut album Young and Restless:
Apakah Karina Utomo -sang vokalis- punya pita suara ekstra yang bisa diganti-ganti?
Saya membayangkan betapa tersiksa sang pita suara bekerja terus-menerus didera jobdesk yang cukup berat dan mengerikan: Melayani permintaan pemiliknya bernyanyi, setengah berteriak, menjerit, memekik tanpa belas kasihan.

Young and Restless adalah sebuah parade musik dengan kata kunci: Noise.
Saya rasa Karina adalah semacam hibrida kekuatan Karen O dari YYY dengan keliaran Jemima Pearl dari Be Your Own Pet. Ketiga wanita tersebut punya persamaan apabila dilihat dari paras mereka: It's all deceptive facade. Mereka dapat melibas vokalis band-band emo yang bertato dan bermuka sangar penuh tindikan dengan sekali gebrak.

Ah, cukuplah bercerita tentang Karina yang cantik dan menarik. Young and Restless adalah contoh membuat gado-gado dengan ramuan yang baik dan benar. Anda semua sudah ketahui bahwa Karina dan saudara lelakinya Nugroho -sang drummer- bergabung bersama dua bule Australia membentuk Young and Restless. Mereka sangat menyatu dan solid, tidak seperti proyek "lucu-lucuan" Ahmad Dhani yang (ingin) merayakan "supremasi" atas kulit putih pada The Rock. "The Batu". Batu nisan barangkali, seperti penanda karir musik mereka.

Album ini berisi tipikal kemarahan, protes dan gejolak khas anak muda. Kalau semua keresahan dan kemarahan digarap serius, hasilnya seperti album ini: Cantik dan beringas, seperti vokalisnya.



Pemuda Harapan Bangsa - Modal Dengkul (2007)




Bagaimana jadinya apabila sebuah bangsa, terutama bangsa Indonesia, bertumpu dan berharap kepada kelompok pemuda yang hanya bermodal dengkul?

Pemuda Harapan Bangsa (PHB) percaya hal itu, setidaknya mereka punya cita-cita sebagai "tumpuan" harapan bangsa untuk mengocok perut rakyat dan membuat mereka tersenyum, walaupun dengan alat musik "seadanya", tampang sekadarnya, lirik seenaknya, dan kualitas vokal yang apa adanya.

PHB pernah melahirkan sebuah mahakarya berupa musik bernafaskan waria Taman Lawang seperti "Baso Mas Parto" di album Orkesnisasi dan sekarang di album Modal Dengkul, hadir sebuah track cerdas: "Kelapa Sawit" yang sempurna secara ide, eksekusi, dan improvisasi.

Di "Khayalan", lahir sebuah konsep baru di dalam musik Indonesia, dimana featuring artist tidak menyanyi, melainkan hanya ngemeng gak jelas di telepon (dalam bahasa Sunda pula).
Saya sering mengulang track ini di bagian awal dan akhir hanya ingin mendengarkan percakapan mereka yang amburadul sambil senyum-senyum sendiri.


Keseriusan PHB dalam bermusik semakin solid ketika menciptakan sebuah lagu yang punya judul seperti kumpulan bumper stiker metromini dan mikrolet: "Doa ibu tersayang kepada anak tercinta semoga selamat sampai tujuan."


Artwork album juga tidak luput dari keseriusan tingkat tinggi personil PHB. Upaya untuk mencetak nama-nama donatur dan jumlah sumbangan buat album ini merupakan langkah jenius yang belum terpikirkan band-band lain di luar sana.


Saya kira PHB akan menurunkan tensi ketidakwarasan mereka di akhir album, ternyata yang saya dapat adalah "The Rain", sebuah karnaval multikulutral pengocok perut dengan bahasa Inggris amburadul dalam atmosfir tembang Sunda-campursari dalam irama tradisional-modern yang absurd.


Gugun and The Bluesbug - Turn It On (2007)




J: "Hank, do you like blues?"

H:
"Yes, one of my favourites."

J: "Have you ever heard an Indonesian playing blues?"

H: "Nope."

J: "You should listen this, it's awesome." (Menyetel "Holding On" di iTunes)

H: "Hmm...the guitarwork sounds like Jimmy Hendrix but with his own personal touch. Also the pronunciation is good, I like it. I did not know that there's a good blues singer-guitarist here, and this one's promising."

J: "Told you, it's awesome."

H: "Yeah, but it's a silly name isn't it? Bluesbug, hahahahaha.... and the artowork is just like those back in the 60s. Anyway, can i borrow the CD after you put it in your iPod?"

J:
"Sure."

Hank adalah guru bahasa Inggris yang datang ke kantor setiap Jumat. Setelah beberapa lama, saya menemukan fakta bahwa si bule punya wawasan tentang musik yang cukup luas dan selera musik yang tidak jauh berbeda dengan saya.

Anyway....saya sempat menyesal tidak menghadiri peluncuran album Gugun and The Bluesbug kira-kira setahun lalu. Ketika membaca e-mail terusan dari seorang teman yang berisi jadwal acara launching album Gugun and The Bluesbug, saya bertanya-tanya band apakah ini? Dilihat dari sampulnya, timbul asumsi bahwa ini hanyalah band-band indie yang mencoba eksis dari pensi-pensi SMA. Saya tak berminat, bahkan tidak terkesan dengan kata 'blues' di nama band tersebut dan tidak googling terlebih dulu.

Asumsi yang terbukti 100% salah ketika saya membaca review di RSI dan kemudian membeli album "Turn it On" dari Gugun and The Bluesbug. Sebuah adegan dari Lock, Stock, and Two Smoking Barrels menyindir asumsi tolol tersebut:

Soap: "And What did I say about assumption being a brother of all fuck-ups?"
Tom: " It's the mother of all fuck-ups, stupid."
Soap: "Well, brother, mother, and any other sucker. It don't make any difference!"

1-0, Satu buat Gugun and The Bluesbug, dan 0 buat asumsi tolol saya.

Mungkin tidak banyak musisi lokal yang memainkan musik ciptaan sendiri bernafaskan blues-based rock dengan penuh penghayatan seperti Gugun. Saya kira mahluk-mahluk yang memainkan musik jenis ini sudah punah. Tersingkir ke bar-bar gelap di pinggiran kota, di panggung kayu yang usang dan disorot lampu redup dan bermandikan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip. Ditonton oleh orang-orang tua dengan rokok kretek di mulut yang ingin bernostalgia mengenang masa muda. Ternyata tidak.

"Turn it on" muncul dengan benang merah blues yang terang, bergairah, dan dinamis sehingga bisa meliuk-liuk dengan cantik di track funk "Funky Pesta" dan galak di "Woman", juga bisa lembut seperti sayap-sayap kecil malaikat di "Holding On."

Gugun and The Bluesbug membuat iPod Classic saya terisi lagi dengan bahan bakar tanpa timbal untuk kuping dan otak saya yang memang haus dan rakus asupan musik-musik yang bergizi, terutama blues.


Thursday, August 28, 2008

Battles - Mirrored (2007)




Alkisah....di zaman jutaan tahun mendatang....
Ketika umat manusia telah punah dan bumi diduduki oleh mesin-mesin imortal ciptaan manusia, yang dengan kecerdasan buatan, berevolusi dan membangun sebuah peradaban baru. Peradaban umat manusia telah lama terlupakan dan terkubur bersama puing-puing masa lalu.

Hingga datang suatu masa dimana para robot tidak sengaja menemukan peradaban manusia yang telah punah jutaan tahun lampau di kedalaman bumi. Di antara artefak-artefak itu mereka menemukan sesuatu yang sangat indah: musik.
Robot-robot tersebut mulai meneliti dan menganalisa "artefak suci" tersebut, sebuah mahakarya ciptaan umat manusia yang sangat berharga. Mereka mulai mencoba membuat musik dengan struktur dan komposisi yang mereka ciptakan sendiri, menyesuaikan musik tersebut dengan peradaban mesin yang sudah sedemikian maju. Hasilnya adalah sebuah "musik mesin" yang rumit, cepat, penuh perhitungan, dan cerdas.

Mereka mengungumkan penemuan ini kepada masyarakat robot dunia. Lagu-lagu ciptaan mereka bagai wabah yang mendominasi kehidupan dunia mesin. Otoritas Robot Dunia pun menganggap wabah ini sudah terjadi sedemikian cepat dan mengkhawatirkan sehingga dapat mengganggu stabilitas dan peradaban dunia mesin. Operasi penumpasan pun akan dilakukan. Musik harus segera lenyap dari permukaan dunia mesin. Kelompok pembela musik pun berontak, mereka tidak mau tunduk terhadap kekuasaan yang absolut, yang semena-mena.

Akhirnya terjadilah demonstrasi dan bentrokan terbesar sepanjang sejarah dunia mesin. Pemberontak dan pemegang kekuasaan bertempur habis-habisan. Walaupun pada akhirnya kalah, kaum pemberontak mengirim utusannya yang paling tangguh, Atlas, untuk menyelamatkan milk mereka yang paling berharga, musik ciptaan para robot, yang telah dibuat susah payah dan diolah dari artefak suci peninggalan umat manusia.

Atlas, dengan sisa tenaga, berhasil menyelamatkan musik ciptaan kaum robot tersebut melalui mesin waktu. Dia juga mengirim berbagai data mengenai pemberontakan para robot dan kisah hidupnya ke abad 21. Persembahan dari jutaan tahun mendatang itu lalu ditemukan oleh empat manusia cerdas yang dapat menyerap musik mesin yang rumit itu. Keempat orang tersebut menamkan band mereka: Battles,
yang terinspirasi dari pertempuran terakhir antara kaum mesin jutaan tahun ke depan.
Mereka mempelajari, mengaransemen ulang beberapa komposisi, dan membuat sebuah album.
Atlas, sebuah single andalan pilihan Battles, dipersembahkan kepada sang robot yang dengan sisa-sisa tenaganya, berhasil menyelamatkan musik robot tersebut ke tangan mereka, kembali ke tangan umat manusia.


Wednesday, August 27, 2008

Eddie Vedder - OST Into The Wild (2007)




Paman Eddie telah kembali!!

Soundtrack
ini merupakan hasil nepotisme bersama sang sobat karib, Sean Penn, menunjukkan bahwa legenda hidup Seattle Sound ini tidak butuh komposisi rumit dan distorsi. Cukup vokal, gumaman dan lengkingan khas yang membuat Paman Eddie tersohor di tahun 90-an hingga sekarang. Ditambah gitar akustik, slide guitar, banjo, dan komposisi yang sederhana namun bermakna.
Hasilnya luarbiasa...

Eddie Vedder back to basic,
Beautiful magic.

Into The Wild bukan soundtrack biasa yang asal mencomot lagu dari sana sini yang temanya dimirip-miripkan. Itu bukan soundtrack tulen namanya, itu kompilasi! Kompilasi bisa dibuat siapa saja, entah itu penulis blog musik yang sok tahu, pemain band amatiran, atau anak baru gede.
Soundtrack Into The Wild yang dibuat Paman Eddie adalah contoh bahwa tidak semua orang bisa membuat musik untuk mengiringi sebuah film dengan baik dan benar. Ini adalah soundtrack sekaligus concept album yang sempurna yang membuktikan kalau nama besar Eddie Vedder bukan pepesan kosong.


Saking menyatunya dengan film, saya berani menyatakan kalau soundtrack ini adalah setengah filmnya. Kehilangan musiknya sama seperti menonton film yang kena gunting sensor hingga setengah durasi total.


Soundtrack dibagi kepada fase-fase perjalanan Chris menuju Alaska, walaupun di filmnya track demi track tidak dimunculkan secara berurutan.

Kita akan tersenyum kecil ketika mendengar "Society". Betapa seorang Christopher McCandless membuat orang-orang di sekitarnya merasa kehilangan sosok yang begitu berbeda, yang menempuh perjalanannya dengan penuh dendam masa lalu dan amarah.

Sebuah unek-unek tentang keserakahan manusia dan konsumerisme. Sebuah curhatan sang pengembara pemberani yang menjelajah hingga ke ujung utara benua Amerika:


You think you have to want more
than you need
Till you have it all
you won't be free
Society, you're crazy breed

Hope you're not lonely without me


Ketika Chris menemukan jawaban atas kegelisahan dan pertanyaannya selama mengembara, lalu menjemput ajal dengan damai, ketika itulah "Big Hard Sun" dinyanyikan seperti soundtrack kematian yang membahana.
Menyiratkan sebuah makna mendalam bahwa orang-orang hebat harus melalui cobaan demi cobaan besar, yang membentuk hidup mereka.

There's a big
a big hard sun
Beaten on the big people
In the big hard world


Wednesday, May 21, 2008

Sunday at Twelve - Somewhere Between (2008)



Berdasarkan "wawancara" singkat di YM bersama pemain bas Sunday at Twelve, Bintang, ada dua alasan kenapa band ini dinamakan demikian, berikut kutipannya:


"Sebenarnya.. itu diambil dari kebiasaan kita yang sok sibuk bgt, dan baru bisa ketemu dan latian hari Minggu siang (bangunnya siang juga) hahahaa...
trus di filosofikan, kalo hari minggu kan adalah hari off seluruh dunia, bebas dari kerjaan.. dan waktunya tuk kumpul ama teman, keluarga dll, hang out dsb... disitulah musik kita ramu yang cozy dan enak tuk didenger bareng temen2 sore2..."

Untuk review album Sunday At Twelve, Somewhere Between, unsur nepotisme-nya terasa kental, because i know most of the guys and the bassist handed the album to me.

Mendengarkan Somewhere Between, bagi yang "tumbuh dewasa" di pertengahan hingga penghujung akhir 90-an, akan membawa kembali ingatan2 tentang sebuah masa dimana mereka pernah berambut gondrong tanggung belah tengah dan sedikit berminyak; memakai kemeja kotak-kotak agak kedombrangan di atas badan ceking, jins belel dan sneakers dekil; menonton serial Friends dengan antusias; dan menganggap Third Eye Blind dan Spin Doctors sebagai role model musik alternatif yang ngepop di tahun 90-an.

Di album perdana mereka ini, sangat mudah untuk menebak darimanakah Sunday at Twelve mendapat inspirasi dalam bermusik. Petunjuknya: dari sebuah band yang sukses besar setelah membuat soundtrack berjudul Iris untuk film yang berjudul City of Angels. Masih belum mengetahuinya? saya maklum, mungkin saja Anda kurang pergaulan atau tinggal di gua.
Berbicara soal kualitas rekaman Somewhere Between, maka kuping saya cukup puas mendengar 9 track dengan mixing yang lumayan rapi di album ini. Kerja yang bagus kawan-kawan!

Album Somewhere Between dari Sunday at Twelve sedikit mengobati kerinduan Anda yang sekarang mungkin sudah berumur pertengahan dua puluhan atau awal 30-an akan manisnya masa ketika ABG.
Buat yang masih lajang di umur tersebut, mungkin bisa dipakai sebagai lagu untuk mengusir kalimat-kalimat mengganggu dari orangtua dan sanak saudara yang terus memaksa Anda untuk cepat menikah dan punya anak, hahahaha...

Bagi adik-adik yang berumur awal 20-an atau yang masih belasan, beginilah warna musik di tahun 90-an.Era dimana sebuah band cukup melepas satu single yang meledak untuk meraih popularitas, dimasukkan ke dalam belasan lusin kompilasi yang juga sukses besar, dan band tersebut akan menghilang perlahan demi pasti. Mereka punya istilah untuk itu, One Hit Wonder.

Crash Test Dummies, 4-non blondes, Gin Blossoms, dan The Rembrandts adalah band-band dari era 90-an yang punya beberapa single sukses dan beberapa album, lalu cepat terlupakan untuk dibangkitkan dari kubur, di kemudian hari.
Mengingat nasib band-band tersebut, saya hanya bisa berharap Sunday at Twelve tidak menghilang terlalu cepat.

Buat yang berminat, dapat membeli di:
- Ak.'sa.ra
- We Are Music: Plaza Semanggi 3rd floor
- Hey Folks Distro: Jl. Bumi

Apabila Anda ingin mem-booking Sunday at Twelve di acara-acara pensi, pesta, event musik, dan lain-lain dapat menghubungi:
Winna (08161996886)
Aryo (08161670474)

Bintang...komisi promosi gue mana Tang?...Tang.....Taaaang...????

Monday, May 12, 2008

The Fashion - S/T (2008)



Buat Anda yang mendukung pemboikotan terhadap Denmark akibat pemuatan kartun Nabi Muhammad tempo lalu, lupakan saja untuk mendengar album The Fashion atau bahkan membaca review di blog sialan ini, karena The Fashion berasal dari negara "terkutuk" itu (yang kebetulan merupakan negara paling jujur alias paling bersih korupsi dari negara-negara yang mengutuknya, ironis kan?).


Apabila Anda, para kaum fundamentalis ekstrem, yang entah kenapa kebetulan terdampar dan membaca review di blog sekuler ini, perlu Anda pahami bahwa saya adalah seorang penggemar Mew, memuja Natalie Portman, mengagumi Sacha Baron Cohen, mendengarkan Matisyahu yang seorang Yahudi ortodoks dan menganggap The Matrix yang memasukkan nama Zion -ibukota terakhir manusia- sebagai film terfavorit sepanjang masa.


Apabila Anda, manusia-manusia agnostik pecinta dunia dan pecandu musik ngak-ngik-ngok, berpikiran pendek dan suka bersenang-senang, maka Anda sudah berada di blog yang tepat.

Bajingan-bajingan dari Denmark ini memang pintar membuat musik untuk menarik cewek-cewek seksi yang jaim untuk ikut berjoget dengan hot.
Berbicara genre disini sudah tidak relevan karena saya pun termasuk salah satu "kritikus" musik yang dibuat bingung dengan pesatnya perkembangan musik di abad 21.
Self-titled album dari The Fashion bisa masuk ke kategori rock, post-punk, disko atau hip-hop.
Sudahlah... mestinya genre musik dihapuskan saja daripada repot.

Kalau dideskripsikan lewat perbandingan, di pertengahan pertama album, mereka menggabungkan beat hip-hop ringan ala Gym Class Heroes serta elemen slow disco VHS or Beta ke dalam album potensial yang bakal jadi hit di tahun 2008 ini.
Pada pertengahan album terakhir, terasa aura Of Montreal dan bahkan di track terakhir, Vampires with Gold Teeth, melodi gitar ciri khas The Strokes terdengar berbarengan dengan pengaruh Bloc Party di beberapa bagian lagu, cerdas!

Akhirnya, saya menemukan lagi satu album yang bisa didengar sembari menyusuri Kalimalang dan Gatot Subroto di malam hari atau sebagai afternoon music. Cantik!

Monday, April 7, 2008

Efek Rumah Kaca - S/T (2007)



Kalau membahas Efek Rumah Kaca (ERK), saya teringat pembicaraan dengan Wahyu, vokalis MLV. Apa hubungannya? Begini, ketika membahas soal mixing, sang vokalis ingin sekali Vanco, yang menjadi audio engineer album Efek Rumah Kaca, mengurusi departemen sound album perdana MLV. Tetapi berhubung si audio engineer udah full-booked entah sampai kapan, niat MLV untuk memakai jasa Vanco diurungkan.
Saya tidak heran kenapa mereka sampai bela-belain berniat memakai Vanco sebagai audio engineer mereka, kualitas rekamannya yahud!

Efek Rumah Kaca merupakan salah satu dari rekaman Indonesia yang punya kualitas sound terbaik. Hal ini cukup jarang mengingat kebiasaan kuping lokal yang sudah cukup diberi musik dengan kualitas 128 kbps mp3 bajakan, sehingga dengan mixing seadanya dirasa cukup.
Hal ini dapat dimaklumi karena kualitas audio engineer yang bagus masih cukup langka.
Bagi band-band mapan, mixing dan mastering di luar negeri yang sudah terjamin kualitasnya tidak menjadi masalah, tapi buat band-band baru? Tidak jarang mereka mencoba mixing dan mastering sendiri karena keterbatasan sumber daya dan biaya walau hasilnya jauh dari memuaskan.


Anyway, di album ini, ERK turut bertanggungjawab menyebarkan virus galau (saya lebih suka menyebut musik ini kontemplatif) ke berbagai penjuru Indonesia. Untung saja sebagian besar tema lirik di album ini tidak membuat para pendengarnya jatuh lebih dalam ke situasi suicidal-depressive seperti yang jamak terjadi di genre ini, tetapi membuat kita lebih aware dengan isu-isu mutakhir di sekeliling kita.

Penulisan semua lirik dengan bahasa Indonesia menambah kecintaan saya terhadap band ini, mungkin di dalam beberapa track ada kalimat yang terdengar terlalu puitis atau sedikit janggal, tetapi hal tersebut bisa dimaafkan. Ini merupakan kemajuan buat musik Indonesia yang selalu menghadirkan alasan klise band-band yang berniat go international dengan menulis lirik bahasa Inggris agar bisa dimengerti orang-orang di belahan dunia lain, atau hanya karena malas belajar mengungkapkan perasaan lewat bahasa ibu kita (jumlah kosa kata bahasa Indonesia memang kalah jauh dari bahasa Inggris, tapi itu bukan alasan).

Apabila menyimak Rendra, GM, atau Pram, Anda pasti mengerti bahwa dengan segala keterbatasannya, bahasa kita sendiri bisa mencapai tingkatan artistik yang tinggi.


Tema lirik pada album Efek Rumah Kaca merentang mulai dari sindiran terhadap RUU anti pornografi di "Jalang", homoseksualitas di "Bukan Lawan Jenis", HAM pada track "Di Udara" yang didedikasikan kepada alm. Munir, kritik terhadap konsumerisme di "Belanja Terus Sampai Mati", sinisme terhadap kecenderungan musik pop Indonesia yang mendayu-dayu di "Cinta Melulu" dan tema lingkungan di "Efek Rumah Kaca".
Sisanya adalah self contemplating track dengan komposisi yang mencerminkan kematangan bermusik para personil ERK, range vokal Cholil yang bermain-main di ranah falsetto dilewati dengan mulus nyaris tanpa cacat.

Komposisi terbaik ERK menurut saya adalah "Insomnia" dan "Debu-Debu Berterbangan", komposisi favorit saya adalah "Desember", sedangkan penulisan lirik favorit saya adalah "Jatuh Cinta itu Biasa Saja" yang menggambarkan sebuah proses menjalin hubungan dengan logis dan sehat (kabarnya terinspirasi dari perjalanan cinta orangtua mereka sendiri yang langgeng).

Beginilah seharusnya sebuah rekaman musik dibuat: Komposisi dan aransemen yang matang, penguasaan instrumen dan vokal yang efektif, kualitas sound yang memanjakan indera pendengaran dan artwork yang representatif.

ERK, kalian layak mendapatkan pujian dari saya, orang yang paling pelit memuji untuk soal kualitas rekaman band lokal.


The Changcuters - Mencoba Sukses Kembali (2008)



Bayangkan sebuah band dengan tata bahasa supir jalur pantura, attitude serta skill dan aksi panggung rock n' roll eksplosif, pengucapan lirik dengan aksen bule kampung dan selera humor yang norak tetapi terdengar keren sekaligus menggelikan. Sudah dibayangkan? Nah...seperti itulah The Changcuters di debut album major label mereka di awal tahun ini, Mencoba Sukses Kembali.

Untuk sebuah band yang menamakan manajemen mereka dengan The Me Is 3 Management, saya pasti tidak akan menganggap mereka secara serius, KECUALI kalau sudah mendengar musiknya.

Sungguh susah menemukan band-band Indonesia saat ini dengan sebutan band rock tanpa berpikir lebih panjang. The Changcuters dengan segala attitude-nya yang overpede dan rada norak adalah salah satu band tersebut.


Saya memberi nilai tambah pada banci-banci tampil dari Bandung ini karena lirik-lirik mereka yang santai mengajak Anda agar selalu eksis dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Hidup cuma sekali kok dibikin terlalu serius, mungkin begitu di dalam pikiran mereka yang agak sedikit terganggu simpul-simpul syarafnya. Kenapa saya bilang terganggu? Yah, mungkin cuma sedikit band yang bisa mempertahankan kewarasannya dalam mengadaptasi gaya permainan khas garage rock, hard rock dan Blues ke dalam interpretasi mereka sendiri yang sudah rusak oleh kamus bahasa ngawur dari supir metromini dan truk sembako tanpa jatuh ke dalam kategori band lawak atau band badut-badutan.

Album ini dihiasi lirik dan semangat dangdut rock n' roll yang norak tetapi paten di "Racun Dunia"; tingkat pede kritis tak tertolong di "Pria Idaman Wanita"; berburu perawan pada akhir pekan di track "Gila-Gilaan";
lirik kampungan pol-polan di "I Love U Bibeh"; seperti belum puas juga, mereka memparodikan Benyamin S. dan Ida Royani tanpa ampun di "Dang Ding Dong" dengan ending tak terduga.

Akhirnya.... ada lagi band lokal yang layak saya review di blog yang sangat diskriminatif terhadap rekaman-rekaman dari Indonesia ini.


Sunday, March 16, 2008

Protest The Hero - Fortress (2008)



Saya tidak suka musik metal, hanya bikin sakit kepala dan menambah timbunan parasetamol di kotak obat. Isinya hanya geraman dan teriakan gak jelas dari seseorang yang menyembunyikan kekurangan teknik vokalnya, gitaris yang hanya memikirkan bagaimana membuat jari-jari menari dengan cepat diantar senar gitar dan melupakan komposisi. Basi!
Dobel pedal? Gak perlu!

Mubazir itu semua!


Tetapi ada sebuah balatentara setan dari neraka bernama Protest The Hero menghajar ketidaksukaan saya sampai ke sumsum tulang belakang dengan album Fortress, mereka tahu kelemahan saya! Syiiiittt...!!!
Dengan sempurna meramu keagresifan Refused; pattern metal klasik dengan dominasi dua gitar; lirik bertema fantasi; perubahan tempo dan beat yang cepat, ganas dan mengagumkan ala progressive rock; tidak ketinggalan mempersembahkan salah seorang vokalis dengan kualitas terbaik dan paling berbahaya di muka bumi yang bergerak dari lembut ke keras, dari lengkingan tertinggi seperti yang bisa dicapai vokalis Steelheart hingga ke growl paling jahat seperti suara anjing penghuni dasar neraka. Salah satu utusan setan ini bernyanyi sambil menjerit, menggeram dan entah apa lagi.. sadiss...sadisss. Musik sesat! Ampuni hambamu ini Tuhaaann!!!

Fortress adalah album yang tepat untuk melempar band-band metal palsu tak bertalenta dengan hanya bermodal growl dan tapping ke Laut Selatan, balapan di jalan raya sambil menantang lawan Anda dengan jari tengah, menjadi lelaki sejati, atau adu badan dan headbanging di mosh pit. Jikalau Anda adalah iblis dan setan, maka ini adalah soundtrack yang tepat untuk menghajar malaikat dan menjerumuskan umat manusia ke lubang neraka!


Sunday, February 10, 2008

Easy Star All-Stars - Dub Side of The Moon (2003)



Lima Puluh tahun lalu, banyak yang berkata bahwa trilogi LOTR tak mungkin dibuat versi layar lebar mengingat betapa luas imajinasi Tolkien dan cerita yang sangat kompleks dan mendalam. Ternyata dugaan mereka salah, LOTR benar-benar dibuat film walau lewat proses yang sangat panjang dan melelahkan.


Hal yang sama terjadi apabila ada orang iseng bertanya apakah Dark Side of The Moon bisa dibuat versi reggae?
Yang berakal sehat tentulah menjawab: "Tidak mungkin!!!"
Sayangnya mereka belum bertemu dengan Easy Star All-Stars, kumpulan musisi reggae sableng yang cukup gila menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan Dub Side of The Moon!

Sebuah dekonstruksi musikal menakjubkan terhadap salah satu rekaman terpenting, terbaik dan paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia -Dark side of The Moon dari Pink Floyd.

Para personil Pink Floyd tentu tidak sembarangan membiarkan mahakarya mereka 'diobrak-abrik' oleh gerombolan merah-kuning-hijau ini. Keputusan mereka tidaklah meleset, Dub side of the Moon adalah sebuah interpretasi jenius ke dalam tatanan musik reggae, genre yang sama sekali berbeda dari apa yang telah mereka hasilkan tiga dekade lalu, psychedelic rock.

Sangat menarik mendengar hasil konstruksi ulang dari Time dimana Easy Star All-Stars bermain dengan bunyi jam pelatuk, terompet hingga suara kokok ayam hingga membuat saya tertawa sejenak. Mereka melanjutkan naluri bermain dan selera humor yang bagus di Money. Suara dentingan koin dan cash register diganti dengan suara pemantik api, bunyi gelembung dan orang terbatuk-batuk. Hayooo...apakah itu?

Organ dan saksofon masih setia digunakan di Us and Them, Time, juga aksi akrobatik synth di Any Colour You Like sehingga kesan tahun 70-an disaat lagu aslinya diciptakan tidak hilang.
Yang kurang terasa pas hanyalah Eclipse, track favorit saya dimana setiap kali mendengarkan versi aslinya bulu kuduk pasti merinding. Dalam Dub Side of The Moon tidak terjadi dekonstuksi yang maksimal pada Eclipse karena terlalu patuh pada pattern lagu aslinya sehingga hasilnya tidak optimal. Mungkin karena track ini begitu susah dibuat ulang karena aura mistisnya yang terlalu pekat.
Dub Side of The Moon mempunyai 'bonus' berupa versi alternatif dari beberapa track di album ini: Time, Great Dub In The Sky dan Any Dub You Like.


Apabila Dark Side of The Moon ketika jaman ayah dan kakek kita dulu cocok didengarkan dan dinikmati ketika sedang memakai LSD dan menghirup heroin, maka menikmati Dub Side of The Moon cukuplah dengan selinting ganja dan berpura-pura menjadi seorang rasta.

Ya....maaaann.....


Saturday, February 9, 2008

Clint Mansell with The Kronos Quartet and Mogwai - OST The Fountain (2006)



Clint Mansell menambah deretan komponis favorit saya khusus untuk music score sebuah film. Thomas Newman masih tetap nomor satu dengan karya-karyanya di Shawshank Redemption, Road to Perdition, A Series of Unfortunate Events dan American Beauty.

Dari titelnya saja saya sudah bisa menerka kekuatan apa yang harus mereka punya jika ingin bertahan hidup dan mencari makan di jagat perfilman Hollywood: Kekuatan sebuah komposisi.
Orang-orang seperti Mansell harus melupakan bahkan kalau perlu tidak memakai sound effect yang terlalu hebat. Semua itu kosmetik belaka, hanya untuk pemula.

Mansell menggabungkan The Kronos Quartet dengan salah satu band pionir post-rock, Mogwai, untuk pengerjaan soundtrack film The Fountain ini. Komposisi yang kuat, orkestra campur sound gitar, piano dan drum dari band yang bertanggungjawab terhadap sound post-rock jaman sekarang ini mengasilkan soundtrack yang mahadahsyat. Canggih!

Teramat panjang apabila saya menjelaskan track demi track. Agar lebih jelas penilaian saya tentang album ini maka saya menggambarkan Clint Mansell telah berhasil melewati apa yang saya sebut 'tahapan tertinggi' sebuah komposisi musik, tahap dimana musik memiliki unsur
mistis: Hadirnya sebuah aura misterius pada sebuah komposisi yang membuat kita seperti menerobos kabut putih yang tebal tanpa tahu ada apa dibaliknya.

Di dalam musik populer, hanya sedikit sekali yang mencapai tahap puncak dikarenakan memang audience-nya tidak terlalu membutuhkan atau si pencipta lagu belum memiliki intuisi yang memadai.
Soundtrack The Fountain ini dengan mudah mencapai tahap mistis yang transendental. Saya bahkan tidak perlu menonton filmnya untuk mendapatkan situasi, atmosfir dan penghayatan yang diinginkan sang pembuat film. Hanya dengan mendengarkan sepuluh komposisi gawat dari Clint Mansell ini sudah cukup.


Saturday, February 2, 2008

White Shoes & The Couples Company - Skenario Masa Moeda (2007)



Toean dan Njonja sekalian, mohon penoelis perkenalkan rekaman White Shoes terbaroe: Skenario Masa Moeda. Ini alboem mini dengan hanja enam lagoe menoeroet tjerita adalah bentoek penghormatan mereka kepada itoe film-film lawas ataoe djadoel.

Perkenalan penoelis dengan ini kelompok moesik bernama White Shoes &The Couples Company tjoekoep menarik. Waktoe rekaman pertama mereka diloentjoerkan beberapa taoen laloe, penoelis tidaklah terpikat karena banjak sekali kelompok moesik jang mentjoba djadoel ataoe retro dan penoelis pikir ini White Shoes hanya ikoet-ikoet sadja. Mendengar tembang mereka sadja tidaklah berniat, apalagi membeli tjakram padat mereka.


Di kemoedian hari penoelis menemoekan bahwa ini groep poenja seorang penggemar ataoe fans bernama Guruh Soekarno Putra. Toean dan Njonja sekalian, soenggoeh hamba tak mengira kiranja seorang Guruh Soekarno Putra menjoekai groep moesik berisi poetra-poetri kemarin sore jang oemoernja tak djaoeh beda dengan penoelis sendiri. Penoelis sangatlah mengagoemi Guruh
sehingga djikalaoe dirinja menjoekai White Shoes, pastilah ini kelompok moesik tidaklah biasa sadja.

Kisah beberapa taoen laloe itoe bikin seboeah peladjaran berharga boeat hamba, djikalaoe Toean-toean dan Nona-nona pada White Shoes &The Couples Company meloentjoerkan rekaman baroe, pastilah penoelis akan dengar itoe alboem dengan penoeh soeka tjita.


Skenario masa moeda tida salah lagi adalah pentjapaian ataoe lontjatan besar dari itoe alboem mereka jang pertama, chabarnja ini alboem mini hanja pengisi waktoe sebeloem mereka meloentjoerkan alboem penoeh nanti. Soeara Nona Sari lebih tebal dan merdoe sehingga penoelis semakin tjinta, doeh Goesti.... bahkan iboe hamba mengira ini adalah salah satoe kelompok moesik tempo doeloe ketika dia masih moeda. Goebahan dan pilihan alat moesik tambahan soenggoehlah menarik. Toean-toean dan Nona-nona di White shoes terboekti semakin matang dan menawan hati.

Semoea lagoe menghanjoetkan penoelis ke itoe masa dimana iboe dan bapak serta oma hamba masih sangatlah moeda dan trendi. Tentoe penoelis beloemlah lahir, tetapi tjoema membajangkan bagaimana rasanja sadja.


Djikalaoe Deep Purple poenja Highway Star, Naif poenja Mobil Balap dan Koeda Besi, White Shoes poenja Pelan Tapi Pasti, seboeah lagoe boeat pengendara sepeda motor jang sopan, mantap dan bergaja.
Ada poela lagoe kegemaran penoelis jang pernah dimasoekkan ke dalam itoe film berbagi soeaminja Njonja Nia Dinata, Aksi Koetjing, seboeah lagoe sangatlah djadoel di masa Opa-opa dahoeloe sering menggoda Oma-oma kita.


Sajangnja rekaman ini diboeat hanja seriboe keping, soenggoeh terbatas. Kasihan jang tida kebagian, semoga Toean-toean dan Nona-nona White Shoes membikin lagi ini alboem mini ataoe kalaoe tidaklah dapat, moengkin dengan peloentjoeran alboem penoeh setjepatnja dapatlah mengobati keketjewaan mereka jang tida kebagian alboem mini jang rantjak ini.

Monday, January 28, 2008

Marché La Void - Cacophonia EP



Ulasan band lokal kedua blog ini, Marché La Void dengan Cacophonia EP-nya. Alasan saya mengulas rekaman ini:

1. Ketidaksengajaan menemukan download link EP mereka dalam sebuah aktivitas blog browsing tahun lalu.

2. Ulasan rekaman band post-rock Indonesia termasuk langka.

3. Berhubung post-rock adalah genre yang sangat sulit mendapatkan deal dengan label rekaman apalagi major label, maka saya sangat menghargai konsistensi mereka berkarya di jalur sepi peminat ini.


Sebuah rekaman post-rock adalah hal yang relatif baru di Indonesia, tapi
Marché La Void belum menawarkan hal yang baru dari segi musik di EP mereka. Them as pyros cukup bagus bermain dengan ambience sound tapi saya lebih memilih Scientific Despair yang komposisinya lebih kuat. Fortified Emptiness yang menurut saya track pamungkas di EP ini punya satu ganjalan, porsi vokal yang mubazir dan penguasan teknik falsetto yang belum sempurna justru mengganggu keindahan flow track ini, kecuali yang bernyanyi adalah Matthew Bellamy (coba simak Micro-cuts, nah! itu baru sempurna). Porsinya perlu dikurangi hanya sebagai aksen sehingga lebih menonjolkan kekuatan instrumen atau diaransemen berbeda.
Depriving The Distant Thought Within Everything That Comes Between
(duh...panjang bener...) sebenarnya bisa dibuat secara megah dan grand tapi entah kenapa saya merasa mood track ini masih tanggung untuk sebuah track penutup.

Artwork yang tidak digarap dengan matang membuat saya mengurungkan niat memberi 3 bintang, sorry guys...hal ini buat saya cukup penting.
Cacophonia EP belum mampu membuat saya berkata: "Anjiiing, kereeen!" seperti pada The Inevitable Sadness EP-nya Souls Vibrating in The Universe yang hanya berisi 3 track tetapi punya kekuatan mahadahsyat itu.

Nah, makanya saya masih menantikan full album
Marché La Void, apakah mereka akan menyempurnakan track-track dari Cacophonia EP ini atau tidak, kita lihat saja nanti.....


Friday, January 25, 2008

The Mars Volta: The Bedlam in Goliath (2008)



Agar bertahan dari proses revolusi industri musik yang kejam, untuk menangkal serangan-serangan beracun dan berbahaya dari band-band sampah dan download gratisan, maka Anda harus membuat band seperti The Mars Volta (TMV):
Berkulit tebal seperti buaya prasejarah, tenaga sebesar robot T-Rex, sumber energi reaktor nuklir tanpa batas, komposisi setajam taji velociraptor yang melengkung berbahaya, vokalis dengan kualitas tanpa ampun dan music director kidal tidak waras yang gemar menciptakan riff-riff dan melodi ganjil.

Dijamin musik yang anda ciptakan punya dua kemungkinan:
1. Membuat pendengarnya sakit jiwa.
2. Musik Anda masih dibicarakan 20 tahun kemudian. Sebuah konser reuni setelah lama bubar akan dinantikan sebagai peristiwa bersejarah.

Dua kemungkinan itu punya satu kepastian: Tidak ada satupun yang bisa menghajar band Anda!
Saya teringat perkataan seorang teman penggemar TMV, "Gue bingung sama Omar, kurang puas eksperimen apa dia di TMV sampai harus membuat beberapa solo album?"

The Mars Volta kembali dengan akrobat musikal jenius di The Bedlam in Goliath. Tanpa ampun langsung merusak indera pendengaran dengan gebrakan Aberinkula yang bengis, cepat dan berisik dilanjutkan dengan Metatron. Energi yang dihabiskan untuk 2 track ini hampir sama dengan mendengarkan satu album musik rock "konvensional".
TMV masih berbelas kasihan untuk menurunkan tempo di Ilyena tapi tidak untuk kualitas, Omar berusaha mengurangi intensitas riff-riff ganjil dan melodi absurdnya...untuk kambuh lagi di Wax Simulacra--anthem headbanging wajib The Bedlam in Goliath, rusuh!
Track Goliath membuat saya beranda-andai, mungkin ini kedengarannya kalo RATM dan RHCP diramu orang gendeng.
Doa saya setelah lima track dijawab Omar dengan menyisipkan rest track Tourniquet Man, tapi..........
Telinga dan otak kembali dikutuk track selanjutnya... dan lagi, lagi..lagi.....
Alhamdulillah terdengar suara adzan yang merdu di Soothsayer dengan melodi padang pasir yang mistis dan megah....
Apakah ini pertanda Omar dan kawan-kawan mendapat hidayah dan akan bertobat? Entahlah....

Sejauh ini, The Bedlam in Goliath merupakan pencapaian puncak The Mars Volta yang membuat band rock, metal atau hardcore jaman sekarang terdengar seperti Peterpan. Sungguh!!!


Tuesday, January 8, 2008

The New Caledonia - Lotus (2007)



Segala macam band yang mengaku progressive rock harap minggir!!!! The New Caledonia mau lewat!
band sangar dari Australia ini bisa membuat embah-embah
progressive rock geleng-geleng kepala dengan eksperimen liar dan jenaka di debut album mereka, Lotus.

The New Caledonia mengembalikan harkat dan martabat progressive rock ke fitrahnya: sebuah genre yang merayakan kebebasan musikal dan eksperimen tanpa embel-embel virtuositas yang berlebihan seperti yang terjadi pada saat ini.
Semua hal di atas belumlah cukup, mereka cukup gila untuk menyediakan full album Lotus secara gratis di internet. Sadis!

Album ini adalah bukti kalo eksperimen pol-polan tidak harus membuat kepala berdenyut karena kecapekan mikir (setidaknya buat saya). Elemen free jazz, synth, funk, hard rock, elektro-prog dan tema science fiction-robotic bercampur dengan cerdas dan playful di album yang di itunes saya tidak satupun tracknya pantas mendapat rating dibawah empat!! hebat!!

Simak track-track mahadahsyat pilihan yang mendapat tempat kehormatan sebagai track para "dewa":
Balada elektronika dengan elemen funk dan psikedelia di Electro Legs lengkap dengan duet maut gitar listrik dan saksofon, campur aduk berbagai instrumen di Zoot Suit Pseudo dengan aksen vokal menghanyutkan di detik-detik terakhir, lalu.... puncak orgasme musikal di dua track penutup: celestial satellites dan dilanjutkan atom plants the psychedelia dengan intro space-guitar-ethereal a la post rock, aura timur tengah di menit-menit pertengahan tidak lupa dibantai suara saksofon kiri-kanan. Mampusss!!! Mampussss!!!

Mendengarkan album Lotus, indera pendengaran seperti dihajar babak belur habis-habisan tapi puas,
The New Caledonia sukses membuat salah satu album paling cerdas, paling berjaya dan berbahaya sepanjang masa di tahun 2007. Jenius!

Sunday, June 17, 2007

Andrew Bird: Armchair Apocrypha (2007)



Andrew Bird adalah musisi dengan kombinasi mematikan: penulis-penyanyi dan multi-instrumentalis.
Buat orang selevel Andrew Bird, stereotip yang muncul adalah musisi dengan musik avant-garde yang tidak nyaman di kuping. Tapi Armchair Apocrypha menghancurkan hipotesis tadi. Album ini luar biasa nyaman, pintar, sangat berwarna, kaya akan bunyi instrumen, mulai dari akustik, elektrik, eksotik, klasik hingga organik seperti suara siulan yang rapuh tetapi indah.

Cara bernyanyi Andrew Bird yang semi-droning di beberapa track mengingatkan gue akan salah satu indie darling Zach Condon, jangan-jangan Zach mengidolakan Andrew?
Tidak seperti musik 3 kord "anti-kemapanan" yang satu album terdengar sama dan membosankan,
Armchair Apocrypha secara mengejutkan punya track yang benar-benar beda satu sama lain walaupun ada benang merahnya. Penulisan liriknya adalah salah satu yang terbaik yang pernah gue baca. Simak sepenggal lirik Armchairs:

I dreamed you were a cosmonaut
of the space between our chairs

And i was a cartographer
of the tangles in your hair

I sighed a song that silence brings
It’s the one that everybody knows
Oh everybody knows

The song that silence sings
nd this was how it goes...


Punya reputasi sebagai seorang musisi bunglon,
Andrew Bird menghadirkan Armchair Apocrypha sebagai contoh konkrit. Mulai dari balada cerdik di Plasticities, sound U2 era Joshua Tree di Dark Matter, hingga sedikit tetesan The Postal Service di Simple X sebagai ajang pembuktian kalo siulan juga punya efek ganda seperti MsG pada makanan, The Supine --salah satu interlude paling sadis yang pernah gue denger-- muncul secara mengagetkan seperti musik cut-scene dalam game RPG atau score music sebuah film. Sadis..

Andrew Bird bukan musisi kemarin sore, walaupun dicap bunglon, dia tidak mengikuti tren atau mengikuti pattern musik tertentu secara gamblang. Gue bahkan bingung mendefinisikan album ini ke genre mana, apakah folk, indie-pop, indie-folk, balada, rock, atau....ahh...sudahlah, yang penting berkualitas, klasifikasi jadi gak penting disini.

Buat gue, beginilah seharusnya seorang musisi tulen membuat album.

Kesimpulannya? Armchair Apocrypha adalah album subliminal dari seorang musisi cerdas yang akan membuat orang tanpa beban mencintai album ini dengan sepenuh hati. Hakul yakin...


Saturday, June 9, 2007

Feist - The Reminder (2007)



Gue bener-bener kaget ketika My Moon My Man diputar di salah satu radio swasta Ibukota yang gue anggap punya playlist paling membosankan dalam sepanjang sejarah gue ngedenger radio. Salah satu trademarknya yang paling "berkesan" adalah memutar single Evanescence "Call Me When You're Sober" yang membosankan itu puluhan kali sehari. Gue pun bertanya-tanya siapa gerangan music director dari radio tersebut mengingat pilihan playlistnya selama ini mengecewakan.

Anyway...back to business.
Mungkin gue kurang memperhitungkan Feist kalo sebelumnya dia gak punya kontribusi yang cukup besar di Broken Social Scene --band indie Kanada yang brilian tapi masih kalah popularitas dibanding Arcade Fire-- atau menghasilkan Mushaboom yang fenomenal dua tahun lalu. Album ketiga Nona manis ini dibuka perlahan-lahan oleh So Sorry dengan ciri khas vokalnya yang meliuk-liuk indah dan mulus, membekas di kepala dengan lembut.
My Moon My Man dengan nada piano upbeat plus aransemen cemerlang bakal terasa lebih sempurna kalo udah liat video clip yang disutradarai Patrick Daughters dengan koreografi sederhana tapi luar biasa menawan. Coba cek disini, dan jangan lupa untuk mendownload video clip 1234 yang berwarna warni nan rupawan dengan koreografi yang tidak kalah menarik.

Feist sekarang cenderung memikirkan sisi komersial melihat pilihan single yang dilepas seperti 1234 dan My Moon My Man. Komersial dalam artian positif. Meracuni publik mainstream dengan Feist jauh lebih sehat daripada dicekoki album-album idol manapun.
Tapi itu hanya puncak gunung es, para penggemar setia nona Feist gue rasa bakal puas dengan penulisan lagu dan pemilihan instrumen yang variatif (ada harpa di dua track terakhir!!).
I Feel it All dan Past in Present sangat menghibur, mengingatkan gue akan masa kejayaan Nona Feist di Broken Social Scene. Sea Lion Woman yang kreatif tak terduga justru dibuka oleh backing vocal yang terdengar sumbang, sebuah penulisan lagu tingkat tinggi. Enak didengar dan tidak rumit.
Himne untuk alam dan cinta dipersembahkan di dua track balada minimalis The Park dan The Water, memperlihatkan kekuatan Feist dalam mengontrol vokalnya yang indah dan bertenaga.
Walaupun di Intuition Feist mengerahkan kemampuan vokalnya dengan agak berlebihan, tapi entah kenapa gue gak punya keinginan untuk menulis sebuah penilaian negatif.
Brandy Alexander yang muncul di bagian penghujung album punya kekuatan untuk menghipnotis Axl Rose jadi manis dan patuh sejinak anak ayam.
How My Heart Behaves dengan vokal tamu Eirik Glambek Bøe dari KoC menuntaskan salah satu album terbaik 2007 ini dengan perasaan haru dan bulu kuduk merinding tak terkendali.
Ahh...Nona Feist....maukah kau jadi pacarku...???


Monday, May 14, 2007

Au Revoir Simone: The Bird of Music (2007)



Perkenalkan, Au Revoir Simone, band dengan tiga personil cewek yang memegang instrumen seragam alias persis sama --keyboard-- dengan pengaturan beat lewat drum machine, sampling rhytm, melodi, vokal, juga dengan tambahan harmoni menghasilkan tekstur unik walaupun artifisial. Pertama kali mendengar album The Bird of Music, secara keseluruhan gue gak nemuin kontras yang cukup ngebawa satu komposisi ke sebuah klimaks total. Tapi perlahan-lahan gue mulai sadar, gak harus ngebuat kontras yang tegas kalo mereka udah ngebawa komposisi synth-pop yang bervariasi dengan manis dan mulus walaupun di beberapa track terdengar terlalu manis.

Keseluruhan komposisi yang ditulis ketiga cewek manis asal Brooklyn ini cenderung melankolis seperti di The Lucky One. Tetapi Erika, Annie dan Heather mengeksplor sound yang cukup beragam mulai dari christmas anthem yang cantik di Fallen Snow,
lalu Sad song yang merupakan antitesis judul galau dengan beat-beat ringan dan aksen melodi yang ceria, juga nomor eksperimental yang dibawakan dengan sedikit "gagap" tapi jujur di I Couldn't Sleep, hingga eksplorasi teenage pop di Dark Halls dan pengaruh new wave di Night Majestic.
Lagu pamungkas di The Bird of Music tentu saja A Violent Yet Flammable World, balada lembut menghanyutkan. Seperti mendengarkan nyanyian tiga malaikat cantik di dalam mimpi indah yang gak pernah selesai.

Au Revoir Simone memilih bermain aman, bahkan track paling eksperimental mereka pun masih terdengar terlalu enteng dan manis di pendengaran gue (setidaknya buat sepasang kuping yang pernah dihajar "Close to the Edge"). Walaupun bukan tipikal album yang bakal gue denger berulang-ulang, tapi setidaknya satu atau dua track dari The Bird of Music cocok buat ngelepas stress, mengendurkan pikiran yang udah tegang, atau sebagai lagu pengantar mimpi indah di negeri impian. Tidak lebih.


Sunday, April 29, 2007

THE S.I.G.I.T. - Visible Idea of Perfection (2006)



Dengan sedikit kesabaran dan keberuntungan, akhirnya gue bisa dapet album baru THE S.I.G.I.T.
Not just ordinary album, but it's an AUTOGRAPHED album!!!
Mereka cukup lihai membawakan musik yang berusia tiga dekade tanpa terjebak kepada nostalgia atau hanya sekadar membawakan lagu cover band-band legendaris di kafe-kafe penuh dengan pria setengah baya yang ingin kembali rock and roll sambil mengenang masa muda mereka bersama teman-teman seumuran dengan perut yang sudah membuncit.

Hal pertama yang gue lakuin pas album mereka ada di tangan bukan langsung ngedengerin, tapi gue baca dulu lirik-liriknya dan gue cukup terkesan dengan New Generation:

we are the noodle generation
our foods are made of preservation
we don't need your education
things not set in proportion

we are the hooker generation

we don't need your education

i only count on my intuition

things are going malfunction

Puisi berima yang keren dan lugas. Things you don't get from Indonesian rock band everytime.

Semua lirik ditulis dengan bahasa Inggris plus pronunciation yang mendekati sempurna.
Hal seperti ini gak bakal terjadi kalo mereka di major label yang memang mengharuskan lirik berbahasa Indonesia. Beberapa track dari EP mereka di tahun 2004 dimasukkan lagi di album ini, termasuk track heboh Soul Sister tentang pelacur yang punya riff mirip Pyramid dari Wolfmother. Well...sebaiknya hal ini gak usah terlalu dibesarkan karena pola riff di Soul Sister cukup umum. Penulisan liriknya juga membuktikan kalo THE S.I.G.I.T. punya selera black humor yang lumayan:

dunno what to do
when she's sittng there alone with you
dunno what she is
is she HE or is she SHE


Ada Horse yang bercerita tentang "tunggangan" dengan lirik nakal seperti Trampled Underfoot-nya Zep. Bedanya kalo Trampled Underfoot dinyanyiin secara seksi, Horse lebih cocok buat ber-headbanging ringan. Ada juga track berkarakter balada biar pendengar gak bosen di All the Time yang berbicara tentang sebuah hubungan:

i wanna live forever
i'm the oak tree
forever scare the stranger
i wanna grow my hairs
and nails all of my life
i want you do change your last name
and be my wife

Track akustik Live in New York di pertengahan album membawa ingatan gue kembali ke masa ABG pas album GN'R Lies pertama kali gue denger di penghujung tahun 80-an.
THE S.I.G.I.T. lulus "ujian" sebagai sebuah rock band dengan memuaskan di track terakhir, Provocateur, yang merupakan versi lain Black Amplifier dengan aransemen beda agar lebih "jinak".

Vokal Rekti mungkin gak bisa berakrobat seperti Robert Plant dan Andrew Stockdale, tapi sang vokalis punya gen seorang rock star sehingga lagu-lagu yang dibawakan benar-benar mencerminkan atmosfir rock n' roll terutama di Horse dan Clove Doper.

Sama seperti rilisan Fastforward lainnya seperti "Elora" dari Pure Saturday, album ini punya sedikit kekurangan: mixing. Mungkin maksud sang sound engineering ingin mengedepankan sound dua gitar di band yang memang punya riff-riff dahsyat ini, tapi justru sound drum di beberapa lagu seperti timbul tenggelam. Buat yang belum terbiasa mendengarkan classic rock dalam dosis tinggi, "efek samping" dari mixing di album ini akan membuat kuping cepat lelah.

Dari segi artwork dan packaging, album Visible Idea of Perfection cukup royal setidaknya kalo dibandingin dengan rilisan CD label lain. Album ini dipresentasikan dengan CD case hitam eksklusif, cover art oil painting bertema retrospektif, fotografi hitam putih yang memberikan kesan klasik dan box CD dengan finishing spot UV bertuliskan kepanjangan akronim THE S.I.G.I.T. dan judul album.

Walaupun album ini sempat dianggap terlambat dari kebangkitan garage rock di permulaan abad ke-21, tapi menurut gue kalo musiknya bagus...ya bagus aja.
Band lain boleh mencap diri mereka sebagai yang pertama di garage rock revival ini, tapi itu gak lantas membuktikan kalo mereka yang terbaik.
Mungkin disini pujian gue terlalu berlebihan, tapi gue rasa itu wajar dari seseorang yang haus akan racun classic rock dari band yang membawakan lagu-lagu sendiri dengan lebih segar dan yang lebih penting...100% asli Indonesia.
Long Live Rock n' Roll!!!!