
Ulasan band lokal kedua blog ini, Marché La Void dengan Cacophonia EP-nya. Alasan saya mengulas rekaman ini:
1. Ketidaksengajaan menemukan download link EP mereka dalam sebuah aktivitas blog browsing tahun lalu.
2. Ulasan rekaman band post-rock Indonesia termasuk langka.
3. Berhubung post-rock adalah genre yang sangat sulit mendapatkan deal dengan label rekaman apalagi major label, maka saya sangat menghargai konsistensi mereka berkarya di jalur sepi peminat ini.
Sebuah rekaman post-rock adalah hal yang relatif baru di Indonesia, tapi Marché La Void belum menawarkan hal yang baru dari segi musik di EP mereka. Them as pyros cukup bagus bermain dengan ambience sound tapi saya lebih memilih Scientific Despair yang komposisinya lebih kuat. Fortified Emptiness yang menurut saya track pamungkas di EP ini punya satu ganjalan, porsi vokal yang mubazir dan penguasan teknik falsetto yang belum sempurna justru mengganggu keindahan flow track ini, kecuali yang bernyanyi adalah Matthew Bellamy (coba simak Micro-cuts, nah! itu baru sempurna). Porsinya perlu dikurangi hanya sebagai aksen sehingga lebih menonjolkan kekuatan instrumen atau diaransemen berbeda.
Depriving The Distant Thought Within Everything That Comes Between (duh...panjang bener...) sebenarnya bisa dibuat secara megah dan grand tapi entah kenapa saya merasa mood track ini masih tanggung untuk sebuah track penutup.
Artwork yang tidak digarap dengan matang membuat saya mengurungkan niat memberi 3 bintang, sorry guys...hal ini buat saya cukup penting. Cacophonia EP belum mampu membuat saya berkata: "Anjiiing, kereeen!" seperti pada The Inevitable Sadness EP-nya Souls Vibrating in The Universe yang hanya berisi 3 track tetapi punya kekuatan mahadahsyat itu.
Nah, makanya saya masih menantikan full album Marché La Void, apakah mereka akan menyempurnakan track-track dari Cacophonia EP ini atau tidak, kita lihat saja nanti.....

Agar bertahan dari proses revolusi industri musik yang kejam, untuk menangkal serangan-serangan beracun dan berbahaya dari band-band sampah dan download gratisan, maka Anda harus membuat band seperti The Mars Volta (TMV):
Berkulit tebal seperti buaya prasejarah, tenaga sebesar robot T-Rex, sumber energi reaktor nuklir tanpa batas, komposisi setajam taji velociraptor yang melengkung berbahaya, vokalis dengan kualitas tanpa ampun dan music director kidal tidak waras yang gemar menciptakan riff-riff dan melodi ganjil.
Dijamin musik yang anda ciptakan punya dua kemungkinan:
1. Membuat pendengarnya sakit jiwa.
2. Musik Anda masih dibicarakan 20 tahun kemudian. Sebuah konser reuni setelah lama bubar akan dinantikan sebagai peristiwa bersejarah.
Dua kemungkinan itu punya satu kepastian: Tidak ada satupun yang bisa menghajar band Anda!
Saya teringat perkataan seorang teman penggemar TMV, "Gue bingung sama Omar, kurang puas eksperimen apa dia di TMV sampai harus membuat beberapa solo album?"
The Mars Volta kembali dengan akrobat musikal jenius di The Bedlam in Goliath. Tanpa ampun langsung merusak indera pendengaran dengan gebrakan Aberinkula yang bengis, cepat dan berisik dilanjutkan dengan Metatron. Energi yang dihabiskan untuk 2 track ini hampir sama dengan mendengarkan satu album musik rock "konvensional".
TMV masih berbelas kasihan untuk menurunkan tempo di Ilyena tapi tidak untuk kualitas, Omar berusaha mengurangi intensitas riff-riff ganjil dan melodi absurdnya...untuk kambuh lagi di Wax Simulacra--anthem headbanging wajib The Bedlam in Goliath, rusuh!
Track Goliath membuat saya beranda-andai, mungkin ini kedengarannya kalo RATM dan RHCP diramu orang gendeng.
Doa saya setelah lima track dijawab Omar dengan menyisipkan rest track Tourniquet Man, tapi..........
Telinga dan otak kembali dikutuk track selanjutnya... dan lagi, lagi..lagi.....
Alhamdulillah terdengar suara adzan yang merdu di Soothsayer dengan melodi padang pasir yang mistis dan megah....
Apakah ini pertanda Omar dan kawan-kawan mendapat hidayah dan akan bertobat? Entahlah....
Sejauh ini, The Bedlam in Goliath merupakan pencapaian puncak The Mars Volta yang membuat band rock, metal atau hardcore jaman sekarang terdengar seperti Peterpan. Sungguh!!!

Segala macam band yang mengaku progressive rock harap minggir!!!! The New Caledonia mau lewat! band sangar dari Australia ini bisa membuat embah-embah progressive rock geleng-geleng kepala dengan eksperimen liar dan jenaka di debut album mereka, Lotus.
The New Caledonia mengembalikan harkat dan martabat progressive rock ke fitrahnya: sebuah genre yang merayakan kebebasan musikal dan eksperimen tanpa embel-embel virtuositas yang berlebihan seperti yang terjadi pada saat ini.
Semua hal di atas belumlah cukup, mereka cukup gila untuk menyediakan full album Lotus secara gratis di internet. Sadis!
Album ini adalah bukti kalo eksperimen pol-polan tidak harus membuat kepala berdenyut karena kecapekan mikir (setidaknya buat saya). Elemen free jazz, synth, funk, hard rock, elektro-prog dan tema science fiction-robotic bercampur dengan cerdas dan playful di album yang di itunes saya tidak satupun tracknya pantas mendapat rating dibawah empat!! hebat!!
Simak track-track mahadahsyat pilihan yang mendapat tempat kehormatan sebagai track para "dewa":
Balada elektronika dengan elemen funk dan psikedelia di Electro Legs lengkap dengan duet maut gitar listrik dan saksofon, campur aduk berbagai instrumen di Zoot Suit Pseudo dengan aksen vokal menghanyutkan di detik-detik terakhir, lalu.... puncak orgasme musikal di dua track penutup: celestial satellites dan dilanjutkan atom plants the psychedelia dengan intro space-guitar-ethereal a la post rock, aura timur tengah di menit-menit pertengahan tidak lupa dibantai suara saksofon kiri-kanan. Mampusss!!! Mampussss!!!
Mendengarkan album Lotus, indera pendengaran seperti dihajar babak belur habis-habisan tapi puas, The New Caledonia sukses membuat salah satu album paling cerdas, paling berjaya dan berbahaya sepanjang masa di tahun 2007. Jenius!

Andrew Bird adalah musisi dengan kombinasi mematikan: penulis-penyanyi dan multi-instrumentalis. Buat orang selevel Andrew Bird, stereotip yang muncul adalah musisi dengan musik avant-garde yang tidak nyaman di kuping. Tapi Armchair Apocrypha menghancurkan hipotesis tadi. Album ini luar biasa nyaman, pintar, sangat berwarna, kaya akan bunyi instrumen, mulai dari akustik, elektrik, eksotik, klasik hingga organik seperti suara siulan yang rapuh tetapi indah.
Cara bernyanyi Andrew Bird yang semi-droning di beberapa track mengingatkan gue akan salah satu indie darling Zach Condon, jangan-jangan Zach mengidolakan Andrew?
Tidak seperti musik 3 kord "anti-kemapanan" yang satu album terdengar sama dan membosankan, Armchair Apocrypha secara mengejutkan punya track yang benar-benar beda satu sama lain walaupun ada benang merahnya. Penulisan liriknya adalah salah satu yang terbaik yang pernah gue baca. Simak sepenggal lirik Armchairs:
I dreamed you were a cosmonaut
of the space between our chairs
And i was a cartographer
of the tangles in your hair
I sighed a song that silence brings
It’s the one that everybody knows
Oh everybody knows
The song that silence sings
nd this was how it goes...
Punya reputasi sebagai seorang musisi bunglon, Andrew Bird menghadirkan Armchair Apocrypha sebagai contoh konkrit. Mulai dari balada cerdik di Plasticities, sound U2 era Joshua Tree di Dark Matter, hingga sedikit tetesan The Postal Service di Simple X sebagai ajang pembuktian kalo siulan juga punya efek ganda seperti MsG pada makanan, The Supine --salah satu interlude paling sadis yang pernah gue denger-- muncul secara mengagetkan seperti musik cut-scene dalam game RPG atau score music sebuah film. Sadis..
Andrew Bird bukan musisi kemarin sore, walaupun dicap bunglon, dia tidak mengikuti tren atau mengikuti pattern musik tertentu secara gamblang. Gue bahkan bingung mendefinisikan album ini ke genre mana, apakah folk, indie-pop, indie-folk, balada, rock, atau....ahh...sudahlah, yang penting berkualitas, klasifikasi jadi gak penting disini.
Buat gue, beginilah seharusnya seorang musisi tulen membuat album.
Kesimpulannya? Armchair Apocrypha adalah album subliminal dari seorang musisi cerdas yang akan membuat orang tanpa beban mencintai album ini dengan sepenuh hati. Hakul yakin...

Gue bener-bener kaget ketika My Moon My Man diputar di salah satu radio swasta Ibukota yang gue anggap punya playlist paling membosankan dalam sepanjang sejarah gue ngedenger radio. Salah satu trademarknya yang paling "berkesan" adalah memutar single Evanescence "Call Me When You're Sober" yang membosankan itu puluhan kali sehari. Gue pun bertanya-tanya siapa gerangan music director dari radio tersebut mengingat pilihan playlistnya selama ini mengecewakan.
Anyway...back to business.
Mungkin gue kurang memperhitungkan Feist kalo sebelumnya dia gak punya kontribusi yang cukup besar di Broken Social Scene --band indie Kanada yang brilian tapi masih kalah popularitas dibanding Arcade Fire-- atau menghasilkan Mushaboom yang fenomenal dua tahun lalu. Album ketiga Nona manis ini dibuka perlahan-lahan oleh So Sorry dengan ciri khas vokalnya yang meliuk-liuk indah dan mulus, membekas di kepala dengan lembut.
My Moon My Man dengan nada piano upbeat plus aransemen cemerlang bakal terasa lebih sempurna kalo udah liat video clip yang disutradarai Patrick Daughters dengan koreografi sederhana tapi luar biasa menawan. Coba cek disini, dan jangan lupa untuk mendownload video clip 1234 yang berwarna warni nan rupawan dengan koreografi yang tidak kalah menarik.
Feist sekarang cenderung memikirkan sisi komersial melihat pilihan single yang dilepas seperti 1234 dan My Moon My Man. Komersial dalam artian positif. Meracuni publik mainstream dengan Feist jauh lebih sehat daripada dicekoki album-album idol manapun.
Tapi itu hanya puncak gunung es, para penggemar setia nona Feist gue rasa bakal puas dengan penulisan lagu dan pemilihan instrumen yang variatif (ada harpa di dua track terakhir!!).
I Feel it All dan Past in Present sangat menghibur, mengingatkan gue akan masa kejayaan Nona Feist di Broken Social Scene. Sea Lion Woman yang kreatif tak terduga justru dibuka oleh backing vocal yang terdengar sumbang, sebuah penulisan lagu tingkat tinggi. Enak didengar dan tidak rumit.
Himne untuk alam dan cinta dipersembahkan di dua track balada minimalis The Park dan The Water, memperlihatkan kekuatan Feist dalam mengontrol vokalnya yang indah dan bertenaga.
Walaupun di Intuition Feist mengerahkan kemampuan vokalnya dengan agak berlebihan, tapi entah kenapa gue gak punya keinginan untuk menulis sebuah penilaian negatif.
Brandy Alexander yang muncul di bagian penghujung album punya kekuatan untuk menghipnotis Axl Rose jadi manis dan patuh sejinak anak ayam.
How My Heart Behaves dengan vokal tamu Eirik Glambek Bøe dari KoC menuntaskan salah satu album terbaik 2007 ini dengan perasaan haru dan bulu kuduk merinding tak terkendali.
Ahh...Nona Feist....maukah kau jadi pacarku...???
Perkenalkan, Au Revoir Simone, band dengan tiga personil cewek yang memegang instrumen seragam alias persis sama --keyboard-- dengan pengaturan beat lewat drum machine, sampling rhytm, melodi, vokal, juga dengan tambahan harmoni menghasilkan tekstur unik walaupun artifisial. Pertama kali mendengar album The Bird of Music, secara keseluruhan gue gak nemuin kontras yang cukup ngebawa satu komposisi ke sebuah klimaks total. Tapi perlahan-lahan gue mulai sadar, gak harus ngebuat kontras yang tegas kalo mereka udah ngebawa komposisi synth-pop yang bervariasi dengan manis dan mulus walaupun di beberapa track terdengar terlalu manis.
Keseluruhan komposisi yang ditulis ketiga cewek manis asal Brooklyn ini cenderung melankolis seperti di The Lucky One. Tetapi Erika, Annie dan Heather mengeksplor sound yang cukup beragam mulai dari christmas anthem yang cantik di Fallen Snow, lalu Sad song yang merupakan antitesis judul galau dengan beat-beat ringan dan aksen melodi yang ceria, juga nomor eksperimental yang dibawakan dengan sedikit "gagap" tapi jujur di I Couldn't Sleep, hingga eksplorasi teenage pop di Dark Halls dan pengaruh new wave di Night Majestic.
Lagu pamungkas di The Bird of Music tentu saja A Violent Yet Flammable World, balada lembut menghanyutkan. Seperti mendengarkan nyanyian tiga malaikat cantik di dalam mimpi indah yang gak pernah selesai.
Au Revoir Simone memilih bermain aman, bahkan track paling eksperimental mereka pun masih terdengar terlalu enteng dan manis di pendengaran gue (setidaknya buat sepasang kuping yang pernah dihajar "Close to the Edge"). Walaupun bukan tipikal album yang bakal gue denger berulang-ulang, tapi setidaknya satu atau dua track dari The Bird of Music cocok buat ngelepas stress, mengendurkan pikiran yang udah tegang, atau sebagai lagu pengantar mimpi indah di negeri impian. Tidak lebih.

Dengan sedikit kesabaran dan keberuntungan, akhirnya gue bisa dapet album baru THE S.I.G.I.T.
Not just ordinary album, but it's an AUTOGRAPHED album!!!
Mereka cukup lihai membawakan musik yang berusia tiga dekade tanpa terjebak kepada nostalgia atau hanya sekadar membawakan lagu cover band-band legendaris di kafe-kafe penuh dengan pria setengah baya yang ingin kembali rock and roll sambil mengenang masa muda mereka bersama teman-teman seumuran dengan perut yang sudah membuncit.
Hal pertama yang gue lakuin pas album mereka ada di tangan bukan langsung ngedengerin, tapi gue baca dulu lirik-liriknya dan gue cukup terkesan dengan New Generation:
we are the noodle generation
our foods are made of preservation
we don't need your education
things not set in proportion
we are the hooker generation
we don't need your education
i only count on my intuition
things are going malfunction
Puisi berima yang keren dan lugas. Things you don't get from Indonesian rock band everytime.
Semua lirik ditulis dengan bahasa Inggris plus pronunciation yang mendekati sempurna.
Hal seperti ini gak bakal terjadi kalo mereka di major label yang memang mengharuskan lirik berbahasa Indonesia. Beberapa track dari EP mereka di tahun 2004 dimasukkan lagi di album ini, termasuk track heboh Soul Sister tentang pelacur yang punya riff mirip Pyramid dari Wolfmother. Well...sebaiknya hal ini gak usah terlalu dibesarkan karena pola riff di Soul Sister cukup umum. Penulisan liriknya juga membuktikan kalo THE S.I.G.I.T. punya selera black humor yang lumayan:
dunno what to do
when she's sittng there alone with you
dunno what she is
is she HE or is she SHE
Ada Horse yang bercerita tentang "tunggangan" dengan lirik nakal seperti Trampled Underfoot-nya Zep. Bedanya kalo Trampled Underfoot dinyanyiin secara seksi, Horse lebih cocok buat ber-headbanging ringan. Ada juga track berkarakter balada biar pendengar gak bosen di All the Time yang berbicara tentang sebuah hubungan:
i wanna live forever
i'm the oak tree
forever scare the stranger
i wanna grow my hairs
and nails all of my life
i want you do change your last name
and be my wife
Track akustik Live in New York di pertengahan album membawa ingatan gue kembali ke masa ABG pas album GN'R Lies pertama kali gue denger di penghujung tahun 80-an.
THE S.I.G.I.T. lulus "ujian" sebagai sebuah rock band dengan memuaskan di track terakhir, Provocateur, yang merupakan versi lain Black Amplifier dengan aransemen beda agar lebih "jinak".
Vokal Rekti mungkin gak bisa berakrobat seperti Robert Plant dan Andrew Stockdale, tapi sang vokalis punya gen seorang rock star sehingga lagu-lagu yang dibawakan benar-benar mencerminkan atmosfir rock n' roll terutama di Horse dan Clove Doper.
Sama seperti rilisan Fastforward lainnya seperti "Elora" dari Pure Saturday, album ini punya sedikit kekurangan: mixing. Mungkin maksud sang sound engineering ingin mengedepankan sound dua gitar di band yang memang punya riff-riff dahsyat ini, tapi justru sound drum di beberapa lagu seperti timbul tenggelam. Buat yang belum terbiasa mendengarkan classic rock dalam dosis tinggi, "efek samping" dari mixing di album ini akan membuat kuping cepat lelah.
Dari segi artwork dan packaging, album Visible Idea of Perfection cukup royal setidaknya kalo dibandingin dengan rilisan CD label lain. Album ini dipresentasikan dengan CD case hitam eksklusif, cover art oil painting bertema retrospektif, fotografi hitam putih yang memberikan kesan klasik dan box CD dengan finishing spot UV bertuliskan kepanjangan akronim THE S.I.G.I.T. dan judul album.
Walaupun album ini sempat dianggap terlambat dari kebangkitan garage rock di permulaan abad ke-21, tapi menurut gue kalo musiknya bagus...ya bagus aja.
Band lain boleh mencap diri mereka sebagai yang pertama di garage rock revival ini, tapi itu gak lantas membuktikan kalo mereka yang terbaik.
Mungkin disini pujian gue terlalu berlebihan, tapi gue rasa itu wajar dari seseorang yang haus akan racun classic rock dari band yang membawakan lagu-lagu sendiri dengan lebih segar dan yang lebih penting...100% asli Indonesia.
Long Live Rock n' Roll!!!!
Souls Vibrating in the Universe mulai bereksperimen dan bereksplorasi lewat instrumen baru dan sound yang lebih segar.
Walaupun penambahan cello sebagai instrumen tambahan turut memperkaya musik mereka, tetapi "efek samping" dari penambahan ini seperti yang terdengar di sebagian besar track di All These Worlds are Yours adalah semakin muramnya suasana di ruangan manapun album ini didengar.
Feel dari lembut ke keras dapat terdengar jelas di Engines on yang di pertengahan lagu memasukkan kocokan gitar bergemuruh plus sonic sound yang kental.
Drums Come in merupakan perpaduan cerdas beat drum, "kebisingan" distorsi gitar, dan sayatan cello yang bisa mengiris hati paling keras sekalipun menjadi serpihan kecil.
Sebagai dua track favorit gue di pertengahan album, Stars Everywhere dan Zircon 5 memberi aksen teatrikal dan berbahaya. Sebuah ajang duet roller-coaster paling mendebarkan dan megah yang pernah disajikan salah satu band tidak dikenal yang paling keren sejagat raya ini.
Universal Will to Become mengajak imajinasi paling dalam gue bekerja secara maksimal dengan ambience yang dominan dan murung, seperti mengalami sendiri perjalanan Catherine Deane (J-Lo) dalam film The Cell: dingin, suram, absurd, kejam dan soliter tiada batas.
Setelah dibombardir oleh gelombang "keputusasaan" di Universal Will to Become, gue diajak bangkit oleh Reap Happiness yang bernuansa optimistik dan menawarkan setitik harapan, sebuah track penutup yang jenius!
All These Worlds are Yours adalah contoh bagus dan sebuah pembuktian kalo feel dalam bermusik jauh lebih penting daripada sekadar mengasah skill atau hanya ingin terlihat berbeda.

Jatuh cinta pada pendengaran pertama! Ternyata snap judgement gue gak salah, 23 sebagai track pembuka cukup bikin gue penasaran dan ternyata track-track berikutnya sama sekali gak mengecewakan dan sulit untuk gak jatuh cinta lagi. Istimewa!
Blonde Redhead yang tetap setia di jalur indie selama lebih dari satu dekade ini melengkapi band "alumni" Sonic Youth favorit gue setelah Be Your Own Pet.
Di album 23, eksplorasi sound band yang beranggotakan Kazu Makino dan dua kembar Simone dan Amedeo Pace ini memenuhi kebutuhan gue akan musik indie yang fresh, berkualitas, berbobot dan yang penting....sadis.
23 merupakan album eksperimental elektronika ala Goldfrapp lengkap dengan sound synth yang menyerang dari sana-sini, petikan gitar Sonic Youth beserta elemen dark & mellownya Mono (inget one-hit wonder band ini dengan single-nya "Life in Mono" di tahun 96? naah...kayak gitu).
Kalo mendengar beberapa album sebelum ini, maka 23 merupakan penyempurnaan sound dari Misery is a Butterfly yang menandakan era mellow Blonde Redhead setelah bertahun-tahun bermain di genre art rock walaupun tidak "separah" Deerhoof.
Untuk band yang udah tergolong karatan di dunia indie, maka sebuah album yang diproduseri sendiri udah merupakan hal wajar dan hasilnya emang gak main-main, sebuah album of the year versi gue.
Gue mau highlight beberapa track yang cukup mewakili keseluruhan album.
Blonde Redhead mulai meningkatkan level tekstur musik mereka dan harmoni secara dramatis walaupun gak terlalu ekstrim.
Contohnya di track kedua yang juga favorit gue --Dr. Strangeluv, seakan kita lagi diajari bagaimana memanage sound yang berlimpah dengan efektif sehingga jadi musik yang unik, acceptable tanpa perlu jadi aneh. Flow musiknya cukup halus sehingga gue dengan santai bisa nikmatin musik berbobot tanpa harus banyak meres otak kayak dengerin The Mars Volta atau Marnie Stern.
Atmosfir dreamspace-nya agak menghipnotis diselingi hentakan beat bass drum yang kenceng di The Dress dan Silently seperti band-band bergenre dance dan elektronika.
SW melengkapi tradisi olah vokal mereka yang tidak diambil alih seluruhnya oleh Kazu, tapi oleh Amedeo dengan vokal ganjil dan suram tapi keren.
Temen gue sempet ngebandingin mereka dengan Interpol. Kalo denger keseluruhan sih enggak, tapi kalo denger Spring and by Summer Fall lo bakal dengerin persamaannya, serupa tapi tak sama.
Temponya mirip, moodnya yang gloomy & dark mirip, tapi tenang....kita sedang mendengarkan track dari melody and harmony master. Soundnya lebih berwarna, transendental, dan magis...wuih...
Silently diaransemen agar didominasi vokal Kazu untuk membentuk harmoni dengan penempatan melodi yang cantik. Muncul perasaan aneh seperti kegembiraan yang menyakitkan ketika Kazu menyanyikan "The clock is ticking tick tack, tick, tack..." Nadanya sedikit riang tapi atmosfirnya galau, gimana dong?
Track "kuda hitam" di album 23 adalah Top Ranking yang dimulai dengan agak "canggung" tapi punya reff yang bisa bikin berdisko, tentunya disko galau. Joget-joget tapi pasang muka sedih, hahahahah....
Impure Hair adalah track penutup dalam artian sebenernya. Lagu paling slow, paling mellow tanpa ampun. Sebuah lullaby buat para pendengar album mereka yang selalu galau tapi mencoba untuk tetap optimis.
Coba test drive kuping lo semua di: http://www.blonderedhead23.com/