Thursday, August 28, 2008

Battles - Mirrored (2007)




Alkisah....di zaman jutaan tahun mendatang....
Ketika umat manusia telah punah dan bumi diduduki oleh mesin-mesin imortal ciptaan manusia, yang dengan kecerdasan buatan, berevolusi dan membangun sebuah peradaban baru. Peradaban umat manusia telah lama terlupakan dan terkubur bersama puing-puing masa lalu.

Hingga datang suatu masa dimana para robot tidak sengaja menemukan peradaban manusia yang telah punah jutaan tahun lampau di kedalaman bumi. Di antara artefak-artefak itu mereka menemukan sesuatu yang sangat indah: musik.
Robot-robot tersebut mulai meneliti dan menganalisa "artefak suci" tersebut, sebuah mahakarya ciptaan umat manusia yang sangat berharga. Mereka mulai mencoba membuat musik dengan struktur dan komposisi yang mereka ciptakan sendiri, menyesuaikan musik tersebut dengan peradaban mesin yang sudah sedemikian maju. Hasilnya adalah sebuah "musik mesin" yang rumit, cepat, penuh perhitungan, dan cerdas.

Mereka mengungumkan penemuan ini kepada masyarakat robot dunia. Lagu-lagu ciptaan mereka bagai wabah yang mendominasi kehidupan dunia mesin. Otoritas Robot Dunia pun menganggap wabah ini sudah terjadi sedemikian cepat dan mengkhawatirkan sehingga dapat mengganggu stabilitas dan peradaban dunia mesin. Operasi penumpasan pun akan dilakukan. Musik harus segera lenyap dari permukaan dunia mesin. Kelompok pembela musik pun berontak, mereka tidak mau tunduk terhadap kekuasaan yang absolut, yang semena-mena.

Akhirnya terjadilah demonstrasi dan bentrokan terbesar sepanjang sejarah dunia mesin. Pemberontak dan pemegang kekuasaan bertempur habis-habisan. Walaupun pada akhirnya kalah, kaum pemberontak mengirim utusannya yang paling tangguh, Atlas, untuk menyelamatkan milk mereka yang paling berharga, musik ciptaan para robot, yang telah dibuat susah payah dan diolah dari artefak suci peninggalan umat manusia.

Atlas, dengan sisa tenaga, berhasil menyelamatkan musik ciptaan kaum robot tersebut melalui mesin waktu. Dia juga mengirim berbagai data mengenai pemberontakan para robot dan kisah hidupnya ke abad 21. Persembahan dari jutaan tahun mendatang itu lalu ditemukan oleh empat manusia cerdas yang dapat menyerap musik mesin yang rumit itu. Keempat orang tersebut menamkan band mereka: Battles,
yang terinspirasi dari pertempuran terakhir antara kaum mesin jutaan tahun ke depan.
Mereka mempelajari, mengaransemen ulang beberapa komposisi, dan membuat sebuah album.
Atlas, sebuah single andalan pilihan Battles, dipersembahkan kepada sang robot yang dengan sisa-sisa tenaganya, berhasil menyelamatkan musik robot tersebut ke tangan mereka, kembali ke tangan umat manusia.


Wednesday, August 27, 2008

Eddie Vedder - OST Into The Wild (2007)




Paman Eddie telah kembali!!

Soundtrack
ini merupakan hasil nepotisme bersama sang sobat karib, Sean Penn, menunjukkan bahwa legenda hidup Seattle Sound ini tidak butuh komposisi rumit dan distorsi. Cukup vokal, gumaman dan lengkingan khas yang membuat Paman Eddie tersohor di tahun 90-an hingga sekarang. Ditambah gitar akustik, slide guitar, banjo, dan komposisi yang sederhana namun bermakna.
Hasilnya luarbiasa...

Eddie Vedder back to basic,
Beautiful magic.

Into The Wild bukan soundtrack biasa yang asal mencomot lagu dari sana sini yang temanya dimirip-miripkan. Itu bukan soundtrack tulen namanya, itu kompilasi! Kompilasi bisa dibuat siapa saja, entah itu penulis blog musik yang sok tahu, pemain band amatiran, atau anak baru gede.
Soundtrack Into The Wild yang dibuat Paman Eddie adalah contoh bahwa tidak semua orang bisa membuat musik untuk mengiringi sebuah film dengan baik dan benar. Ini adalah soundtrack sekaligus concept album yang sempurna yang membuktikan kalau nama besar Eddie Vedder bukan pepesan kosong.


Saking menyatunya dengan film, saya berani menyatakan kalau soundtrack ini adalah setengah filmnya. Kehilangan musiknya sama seperti menonton film yang kena gunting sensor hingga setengah durasi total.


Soundtrack dibagi kepada fase-fase perjalanan Chris menuju Alaska, walaupun di filmnya track demi track tidak dimunculkan secara berurutan.

Kita akan tersenyum kecil ketika mendengar "Society". Betapa seorang Christopher McCandless membuat orang-orang di sekitarnya merasa kehilangan sosok yang begitu berbeda, yang menempuh perjalanannya dengan penuh dendam masa lalu dan amarah.

Sebuah unek-unek tentang keserakahan manusia dan konsumerisme. Sebuah curhatan sang pengembara pemberani yang menjelajah hingga ke ujung utara benua Amerika:


You think you have to want more
than you need
Till you have it all
you won't be free
Society, you're crazy breed

Hope you're not lonely without me


Ketika Chris menemukan jawaban atas kegelisahan dan pertanyaannya selama mengembara, lalu menjemput ajal dengan damai, ketika itulah "Big Hard Sun" dinyanyikan seperti soundtrack kematian yang membahana.
Menyiratkan sebuah makna mendalam bahwa orang-orang hebat harus melalui cobaan demi cobaan besar, yang membentuk hidup mereka.

There's a big
a big hard sun
Beaten on the big people
In the big hard world


Wednesday, May 21, 2008

Sunday at Twelve - Somewhere Between (2008)



Berdasarkan "wawancara" singkat di YM bersama pemain bas Sunday at Twelve, Bintang, ada dua alasan kenapa band ini dinamakan demikian, berikut kutipannya:


"Sebenarnya.. itu diambil dari kebiasaan kita yang sok sibuk bgt, dan baru bisa ketemu dan latian hari Minggu siang (bangunnya siang juga) hahahaa...
trus di filosofikan, kalo hari minggu kan adalah hari off seluruh dunia, bebas dari kerjaan.. dan waktunya tuk kumpul ama teman, keluarga dll, hang out dsb... disitulah musik kita ramu yang cozy dan enak tuk didenger bareng temen2 sore2..."

Untuk review album Sunday At Twelve, Somewhere Between, unsur nepotisme-nya terasa kental, because i know most of the guys and the bassist handed the album to me.

Mendengarkan Somewhere Between, bagi yang "tumbuh dewasa" di pertengahan hingga penghujung akhir 90-an, akan membawa kembali ingatan2 tentang sebuah masa dimana mereka pernah berambut gondrong tanggung belah tengah dan sedikit berminyak; memakai kemeja kotak-kotak agak kedombrangan di atas badan ceking, jins belel dan sneakers dekil; menonton serial Friends dengan antusias; dan menganggap Third Eye Blind dan Spin Doctors sebagai role model musik alternatif yang ngepop di tahun 90-an.

Di album perdana mereka ini, sangat mudah untuk menebak darimanakah Sunday at Twelve mendapat inspirasi dalam bermusik. Petunjuknya: dari sebuah band yang sukses besar setelah membuat soundtrack berjudul Iris untuk film yang berjudul City of Angels. Masih belum mengetahuinya? saya maklum, mungkin saja Anda kurang pergaulan atau tinggal di gua.
Berbicara soal kualitas rekaman Somewhere Between, maka kuping saya cukup puas mendengar 9 track dengan mixing yang lumayan rapi di album ini. Kerja yang bagus kawan-kawan!

Album Somewhere Between dari Sunday at Twelve sedikit mengobati kerinduan Anda yang sekarang mungkin sudah berumur pertengahan dua puluhan atau awal 30-an akan manisnya masa ketika ABG.
Buat yang masih lajang di umur tersebut, mungkin bisa dipakai sebagai lagu untuk mengusir kalimat-kalimat mengganggu dari orangtua dan sanak saudara yang terus memaksa Anda untuk cepat menikah dan punya anak, hahahaha...

Bagi adik-adik yang berumur awal 20-an atau yang masih belasan, beginilah warna musik di tahun 90-an.Era dimana sebuah band cukup melepas satu single yang meledak untuk meraih popularitas, dimasukkan ke dalam belasan lusin kompilasi yang juga sukses besar, dan band tersebut akan menghilang perlahan demi pasti. Mereka punya istilah untuk itu, One Hit Wonder.

Crash Test Dummies, 4-non blondes, Gin Blossoms, dan The Rembrandts adalah band-band dari era 90-an yang punya beberapa single sukses dan beberapa album, lalu cepat terlupakan untuk dibangkitkan dari kubur, di kemudian hari.
Mengingat nasib band-band tersebut, saya hanya bisa berharap Sunday at Twelve tidak menghilang terlalu cepat.

Buat yang berminat, dapat membeli di:
- Ak.'sa.ra
- We Are Music: Plaza Semanggi 3rd floor
- Hey Folks Distro: Jl. Bumi

Apabila Anda ingin mem-booking Sunday at Twelve di acara-acara pensi, pesta, event musik, dan lain-lain dapat menghubungi:
Winna (08161996886)
Aryo (08161670474)

Bintang...komisi promosi gue mana Tang?...Tang.....Taaaang...????

Monday, May 12, 2008

The Fashion - S/T (2008)



Buat Anda yang mendukung pemboikotan terhadap Denmark akibat pemuatan kartun Nabi Muhammad tempo lalu, lupakan saja untuk mendengar album The Fashion atau bahkan membaca review di blog sialan ini, karena The Fashion berasal dari negara "terkutuk" itu (yang kebetulan merupakan negara paling jujur alias paling bersih korupsi dari negara-negara yang mengutuknya, ironis kan?).


Apabila Anda, para kaum fundamentalis ekstrem, yang entah kenapa kebetulan terdampar dan membaca review di blog sekuler ini, perlu Anda pahami bahwa saya adalah seorang penggemar Mew, memuja Natalie Portman, mengagumi Sacha Baron Cohen, mendengarkan Matisyahu yang seorang Yahudi ortodoks dan menganggap The Matrix yang memasukkan nama Zion -ibukota terakhir manusia- sebagai film terfavorit sepanjang masa.


Apabila Anda, manusia-manusia agnostik pecinta dunia dan pecandu musik ngak-ngik-ngok, berpikiran pendek dan suka bersenang-senang, maka Anda sudah berada di blog yang tepat.

Bajingan-bajingan dari Denmark ini memang pintar membuat musik untuk menarik cewek-cewek seksi yang jaim untuk ikut berjoget dengan hot.
Berbicara genre disini sudah tidak relevan karena saya pun termasuk salah satu "kritikus" musik yang dibuat bingung dengan pesatnya perkembangan musik di abad 21.
Self-titled album dari The Fashion bisa masuk ke kategori rock, post-punk, disko atau hip-hop.
Sudahlah... mestinya genre musik dihapuskan saja daripada repot.

Kalau dideskripsikan lewat perbandingan, di pertengahan pertama album, mereka menggabungkan beat hip-hop ringan ala Gym Class Heroes serta elemen slow disco VHS or Beta ke dalam album potensial yang bakal jadi hit di tahun 2008 ini.
Pada pertengahan album terakhir, terasa aura Of Montreal dan bahkan di track terakhir, Vampires with Gold Teeth, melodi gitar ciri khas The Strokes terdengar berbarengan dengan pengaruh Bloc Party di beberapa bagian lagu, cerdas!

Akhirnya, saya menemukan lagi satu album yang bisa didengar sembari menyusuri Kalimalang dan Gatot Subroto di malam hari atau sebagai afternoon music. Cantik!

Monday, April 7, 2008

Efek Rumah Kaca - S/T (2007)



Kalau membahas Efek Rumah Kaca (ERK), saya teringat pembicaraan dengan Wahyu, vokalis MLV. Apa hubungannya? Begini, ketika membahas soal mixing, sang vokalis ingin sekali Vanco, yang menjadi audio engineer album Efek Rumah Kaca, mengurusi departemen sound album perdana MLV. Tetapi berhubung si audio engineer udah full-booked entah sampai kapan, niat MLV untuk memakai jasa Vanco diurungkan.
Saya tidak heran kenapa mereka sampai bela-belain berniat memakai Vanco sebagai audio engineer mereka, kualitas rekamannya yahud!

Efek Rumah Kaca merupakan salah satu dari rekaman Indonesia yang punya kualitas sound terbaik. Hal ini cukup jarang mengingat kebiasaan kuping lokal yang sudah cukup diberi musik dengan kualitas 128 kbps mp3 bajakan, sehingga dengan mixing seadanya dirasa cukup.
Hal ini dapat dimaklumi karena kualitas audio engineer yang bagus masih cukup langka.
Bagi band-band mapan, mixing dan mastering di luar negeri yang sudah terjamin kualitasnya tidak menjadi masalah, tapi buat band-band baru? Tidak jarang mereka mencoba mixing dan mastering sendiri karena keterbatasan sumber daya dan biaya walau hasilnya jauh dari memuaskan.


Anyway, di album ini, ERK turut bertanggungjawab menyebarkan virus galau (saya lebih suka menyebut musik ini kontemplatif) ke berbagai penjuru Indonesia. Untung saja sebagian besar tema lirik di album ini tidak membuat para pendengarnya jatuh lebih dalam ke situasi suicidal-depressive seperti yang jamak terjadi di genre ini, tetapi membuat kita lebih aware dengan isu-isu mutakhir di sekeliling kita.

Penulisan semua lirik dengan bahasa Indonesia menambah kecintaan saya terhadap band ini, mungkin di dalam beberapa track ada kalimat yang terdengar terlalu puitis atau sedikit janggal, tetapi hal tersebut bisa dimaafkan. Ini merupakan kemajuan buat musik Indonesia yang selalu menghadirkan alasan klise band-band yang berniat go international dengan menulis lirik bahasa Inggris agar bisa dimengerti orang-orang di belahan dunia lain, atau hanya karena malas belajar mengungkapkan perasaan lewat bahasa ibu kita (jumlah kosa kata bahasa Indonesia memang kalah jauh dari bahasa Inggris, tapi itu bukan alasan).

Apabila menyimak Rendra, GM, atau Pram, Anda pasti mengerti bahwa dengan segala keterbatasannya, bahasa kita sendiri bisa mencapai tingkatan artistik yang tinggi.


Tema lirik pada album Efek Rumah Kaca merentang mulai dari sindiran terhadap RUU anti pornografi di "Jalang", homoseksualitas di "Bukan Lawan Jenis", HAM pada track "Di Udara" yang didedikasikan kepada alm. Munir, kritik terhadap konsumerisme di "Belanja Terus Sampai Mati", sinisme terhadap kecenderungan musik pop Indonesia yang mendayu-dayu di "Cinta Melulu" dan tema lingkungan di "Efek Rumah Kaca".
Sisanya adalah self contemplating track dengan komposisi yang mencerminkan kematangan bermusik para personil ERK, range vokal Cholil yang bermain-main di ranah falsetto dilewati dengan mulus nyaris tanpa cacat.

Komposisi terbaik ERK menurut saya adalah "Insomnia" dan "Debu-Debu Berterbangan", komposisi favorit saya adalah "Desember", sedangkan penulisan lirik favorit saya adalah "Jatuh Cinta itu Biasa Saja" yang menggambarkan sebuah proses menjalin hubungan dengan logis dan sehat (kabarnya terinspirasi dari perjalanan cinta orangtua mereka sendiri yang langgeng).

Beginilah seharusnya sebuah rekaman musik dibuat: Komposisi dan aransemen yang matang, penguasaan instrumen dan vokal yang efektif, kualitas sound yang memanjakan indera pendengaran dan artwork yang representatif.

ERK, kalian layak mendapatkan pujian dari saya, orang yang paling pelit memuji untuk soal kualitas rekaman band lokal.


The Changcuters - Mencoba Sukses Kembali (2008)



Bayangkan sebuah band dengan tata bahasa supir jalur pantura, attitude serta skill dan aksi panggung rock n' roll eksplosif, pengucapan lirik dengan aksen bule kampung dan selera humor yang norak tetapi terdengar keren sekaligus menggelikan. Sudah dibayangkan? Nah...seperti itulah The Changcuters di debut album major label mereka di awal tahun ini, Mencoba Sukses Kembali.

Untuk sebuah band yang menamakan manajemen mereka dengan The Me Is 3 Management, saya pasti tidak akan menganggap mereka secara serius, KECUALI kalau sudah mendengar musiknya.

Sungguh susah menemukan band-band Indonesia saat ini dengan sebutan band rock tanpa berpikir lebih panjang. The Changcuters dengan segala attitude-nya yang overpede dan rada norak adalah salah satu band tersebut.


Saya memberi nilai tambah pada banci-banci tampil dari Bandung ini karena lirik-lirik mereka yang santai mengajak Anda agar selalu eksis dimanapun, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Hidup cuma sekali kok dibikin terlalu serius, mungkin begitu di dalam pikiran mereka yang agak sedikit terganggu simpul-simpul syarafnya. Kenapa saya bilang terganggu? Yah, mungkin cuma sedikit band yang bisa mempertahankan kewarasannya dalam mengadaptasi gaya permainan khas garage rock, hard rock dan Blues ke dalam interpretasi mereka sendiri yang sudah rusak oleh kamus bahasa ngawur dari supir metromini dan truk sembako tanpa jatuh ke dalam kategori band lawak atau band badut-badutan.

Album ini dihiasi lirik dan semangat dangdut rock n' roll yang norak tetapi paten di "Racun Dunia"; tingkat pede kritis tak tertolong di "Pria Idaman Wanita"; berburu perawan pada akhir pekan di track "Gila-Gilaan";
lirik kampungan pol-polan di "I Love U Bibeh"; seperti belum puas juga, mereka memparodikan Benyamin S. dan Ida Royani tanpa ampun di "Dang Ding Dong" dengan ending tak terduga.

Akhirnya.... ada lagi band lokal yang layak saya review di blog yang sangat diskriminatif terhadap rekaman-rekaman dari Indonesia ini.


Sunday, March 16, 2008

Protest The Hero - Fortress (2008)



Saya tidak suka musik metal, hanya bikin sakit kepala dan menambah timbunan parasetamol di kotak obat. Isinya hanya geraman dan teriakan gak jelas dari seseorang yang menyembunyikan kekurangan teknik vokalnya, gitaris yang hanya memikirkan bagaimana membuat jari-jari menari dengan cepat diantar senar gitar dan melupakan komposisi. Basi!
Dobel pedal? Gak perlu!

Mubazir itu semua!


Tetapi ada sebuah balatentara setan dari neraka bernama Protest The Hero menghajar ketidaksukaan saya sampai ke sumsum tulang belakang dengan album Fortress, mereka tahu kelemahan saya! Syiiiittt...!!!
Dengan sempurna meramu keagresifan Refused; pattern metal klasik dengan dominasi dua gitar; lirik bertema fantasi; perubahan tempo dan beat yang cepat, ganas dan mengagumkan ala progressive rock; tidak ketinggalan mempersembahkan salah seorang vokalis dengan kualitas terbaik dan paling berbahaya di muka bumi yang bergerak dari lembut ke keras, dari lengkingan tertinggi seperti yang bisa dicapai vokalis Steelheart hingga ke growl paling jahat seperti suara anjing penghuni dasar neraka. Salah satu utusan setan ini bernyanyi sambil menjerit, menggeram dan entah apa lagi.. sadiss...sadisss. Musik sesat! Ampuni hambamu ini Tuhaaann!!!

Fortress adalah album yang tepat untuk melempar band-band metal palsu tak bertalenta dengan hanya bermodal growl dan tapping ke Laut Selatan, balapan di jalan raya sambil menantang lawan Anda dengan jari tengah, menjadi lelaki sejati, atau adu badan dan headbanging di mosh pit. Jikalau Anda adalah iblis dan setan, maka ini adalah soundtrack yang tepat untuk menghajar malaikat dan menjerumuskan umat manusia ke lubang neraka!


Sunday, February 10, 2008

Easy Star All-Stars - Dub Side of The Moon (2003)



Lima Puluh tahun lalu, banyak yang berkata bahwa trilogi LOTR tak mungkin dibuat versi layar lebar mengingat betapa luas imajinasi Tolkien dan cerita yang sangat kompleks dan mendalam. Ternyata dugaan mereka salah, LOTR benar-benar dibuat film walau lewat proses yang sangat panjang dan melelahkan.


Hal yang sama terjadi apabila ada orang iseng bertanya apakah Dark Side of The Moon bisa dibuat versi reggae?
Yang berakal sehat tentulah menjawab: "Tidak mungkin!!!"
Sayangnya mereka belum bertemu dengan Easy Star All-Stars, kumpulan musisi reggae sableng yang cukup gila menjawab tantangan tersebut dengan menghadirkan Dub Side of The Moon!

Sebuah dekonstruksi musikal menakjubkan terhadap salah satu rekaman terpenting, terbaik dan paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia -Dark side of The Moon dari Pink Floyd.

Para personil Pink Floyd tentu tidak sembarangan membiarkan mahakarya mereka 'diobrak-abrik' oleh gerombolan merah-kuning-hijau ini. Keputusan mereka tidaklah meleset, Dub side of the Moon adalah sebuah interpretasi jenius ke dalam tatanan musik reggae, genre yang sama sekali berbeda dari apa yang telah mereka hasilkan tiga dekade lalu, psychedelic rock.

Sangat menarik mendengar hasil konstruksi ulang dari Time dimana Easy Star All-Stars bermain dengan bunyi jam pelatuk, terompet hingga suara kokok ayam hingga membuat saya tertawa sejenak. Mereka melanjutkan naluri bermain dan selera humor yang bagus di Money. Suara dentingan koin dan cash register diganti dengan suara pemantik api, bunyi gelembung dan orang terbatuk-batuk. Hayooo...apakah itu?

Organ dan saksofon masih setia digunakan di Us and Them, Time, juga aksi akrobatik synth di Any Colour You Like sehingga kesan tahun 70-an disaat lagu aslinya diciptakan tidak hilang.
Yang kurang terasa pas hanyalah Eclipse, track favorit saya dimana setiap kali mendengarkan versi aslinya bulu kuduk pasti merinding. Dalam Dub Side of The Moon tidak terjadi dekonstuksi yang maksimal pada Eclipse karena terlalu patuh pada pattern lagu aslinya sehingga hasilnya tidak optimal. Mungkin karena track ini begitu susah dibuat ulang karena aura mistisnya yang terlalu pekat.
Dub Side of The Moon mempunyai 'bonus' berupa versi alternatif dari beberapa track di album ini: Time, Great Dub In The Sky dan Any Dub You Like.


Apabila Dark Side of The Moon ketika jaman ayah dan kakek kita dulu cocok didengarkan dan dinikmati ketika sedang memakai LSD dan menghirup heroin, maka menikmati Dub Side of The Moon cukuplah dengan selinting ganja dan berpura-pura menjadi seorang rasta.

Ya....maaaann.....


Saturday, February 9, 2008

Clint Mansell with The Kronos Quartet and Mogwai - OST The Fountain (2006)



Clint Mansell menambah deretan komponis favorit saya khusus untuk music score sebuah film. Thomas Newman masih tetap nomor satu dengan karya-karyanya di Shawshank Redemption, Road to Perdition, A Series of Unfortunate Events dan American Beauty.

Dari titelnya saja saya sudah bisa menerka kekuatan apa yang harus mereka punya jika ingin bertahan hidup dan mencari makan di jagat perfilman Hollywood: Kekuatan sebuah komposisi.
Orang-orang seperti Mansell harus melupakan bahkan kalau perlu tidak memakai sound effect yang terlalu hebat. Semua itu kosmetik belaka, hanya untuk pemula.

Mansell menggabungkan The Kronos Quartet dengan salah satu band pionir post-rock, Mogwai, untuk pengerjaan soundtrack film The Fountain ini. Komposisi yang kuat, orkestra campur sound gitar, piano dan drum dari band yang bertanggungjawab terhadap sound post-rock jaman sekarang ini mengasilkan soundtrack yang mahadahsyat. Canggih!

Teramat panjang apabila saya menjelaskan track demi track. Agar lebih jelas penilaian saya tentang album ini maka saya menggambarkan Clint Mansell telah berhasil melewati apa yang saya sebut 'tahapan tertinggi' sebuah komposisi musik, tahap dimana musik memiliki unsur
mistis: Hadirnya sebuah aura misterius pada sebuah komposisi yang membuat kita seperti menerobos kabut putih yang tebal tanpa tahu ada apa dibaliknya.

Di dalam musik populer, hanya sedikit sekali yang mencapai tahap puncak dikarenakan memang audience-nya tidak terlalu membutuhkan atau si pencipta lagu belum memiliki intuisi yang memadai.
Soundtrack The Fountain ini dengan mudah mencapai tahap mistis yang transendental. Saya bahkan tidak perlu menonton filmnya untuk mendapatkan situasi, atmosfir dan penghayatan yang diinginkan sang pembuat film. Hanya dengan mendengarkan sepuluh komposisi gawat dari Clint Mansell ini sudah cukup.